Menata Ulang Makna Dosen “baik” dan Dosen “jahat”
Trisnawaty, M.Psi., Psikolog
(Dosen UIN Alaudin Makassar)
Di kampus, pelabelan dosen cepat sekali lahir, “dosen baik” vs “dosen jahat”. Dosen baik dianggap yang memberi nilai mudah, tugas ringan, aturan longgar, dan jarang menegur. Dosen jahat dianggap yang banyak revisi, teliti, tegas pada standar, dan tidak gampang memberi kelonggaran. Masalahnya, label itu sering tidak lahir dari ukuran profesionalisme, melainkan dari ukuran kenyamanan. Kita menilai bukan dari kualitas ilmu yang kita dapat, tetapi dari seberapa aman ego kita dari koreksi. Padahal, kemungkinan besar dosen yang kita sebut “jahat” sebenarnya sedang menjalankan satu hal yang paling mahal dalam dunia akademik yaitu integritas.
Kita sering salah paham bahwa “baik” bukan selalu “membantu”
Ada dosen yang terlihat sangat “baik” di mata mahasiswa, ia mudah memberi nilai A yang terasa “gratis”, penilaian tidak jelas, tugas asal jadi pun tetap tinggi. Kemudian ujian boleh lewat tanpa revisi, sidang dibiarkan berjalan meski penelitian rapuh. Semua terasa mudah, cepat, dan “aman”. Namun mari jujur, apakah itu benar-benar membantu?
Banyak mahasiswa tidak sadar bahwa kelulusan tanpa kualitas adalah bentuk penundaan masalah. Hari ini tampak nyaman, namun besok bisa jadi beban. Kita “lulus” tetapi tidak benar-benar “siap”. Kita lolos mata kuliah, tetapi tidak lolos kompetensi.
Dosen yang terlalu memudahkan bisa saja bukan sedang membantu, melainkan: malas berdebat dengan ketidakmampuan kita, ingin cepat selesai, tidak punya sistem penilaian yang kuat, atau terjebak sistem yang menuntut kelulusan cepat. Sehingga hasilnya: mahasiswa tampak senang, tetapi sedang dirugikan karena saat itulah kita kehilangan kesempatan dibentuk.
“Jahat” yang sebenarnya adalah tentang ketidakjelasan, bukan ketegasan
Yang paling menyakitkan bagi mahasiswa sering bukan ketegasan, melainkan ketidakjelasan. Mahasiswa sebenarnya tidak membenci standar tinggi. Yang dibenci adalah aturan berubah-ubah, rubrik tidak jelas, tugas tidak terarah, koreksi banyak tapi tanpa petunjuk jalan, nada komunikasi dosen yang merendahkan, bukan membangun.
Jadi, problemnya bukan “dosen tegas”. Problemnya adalah “dosen tidak transparan”.
Dosen yang tegas sejak awal, aturan jelas, target terukur, biasanya justru lebih dicintai. Karena mahasiswa tahu: kalau saya mengikuti rutenya, saya akan sampai.
Dosen “garis keras” yang tetap dicintai
Ada tipe dosen yang dikenal “garis keras” tetapi mahasiswa tetap hormat, bahkan diam-diam sayang. Kenapa? Karena tegasnya punya struktur dan empati. Dosen tersebut punya ciri seperti: (1). Aturan jelas di awal. Kontrak kuliah terang benderang: kriteria nilai, cara penilaian, tenggat, standar karya ilmiah. Tidak ada kejutan (tiba-tiba menyalahi kontrak kuliah); (2). Tegas pada standar, manusiawi pada proses. Ia tidak menurunkan standar, tetapi ia paham mahasiswa belajar. Ia memberi ruang bertanya, memberi contoh, memberi kesempatan revisi yang terarah. (3). Koreksi yang menunjukkan jalan. Jadi bukan sekadar “salah” dan coretan merah, tetapi ada petunjuk “salahnya di mana” dan “betulnya bagaimana”. (4). Adil dan konsisten. Mahasiswa merasa aman karena tidak ada pilih kasih. Ketegasan yang konsisten justru menciptakan kenyamanan akademik. Ketegasan seperti ini bukan kekerasan, melainkan pelatihan.
Dosen “jahat” yang sebenarnya profesional
Ada dosen yang mengatakan apa adanya ketika tugas kita buruk, meminta revisi berulang karena memang naskahnya tidak layak, menolak “asal jadi” karena ia menjaga nama baik institusi, tidak ingin mahasiswanya dipermalukan di forum ujian atau di dunia kerja nantinya. Di mata sebagian mahasiswa, itu terasa “mempermalukan”. Tetapi sering kali dosen seperti ini sedang melakukan perlindungan jangka panjang dengan menjaga martabat ilmiah mahasiswa. Karena dunia di luar kampus tidak bertanya: “kamu dulu kuliah nyaman atau tidak?”. Dunia akan bertanya: “kamu lulusan dari mana?”, “kamu bisa kerja atau tidak?”
Mengapa ketegasan itu penting, apalagi di profesi tertentu
Untuk beberapa bidang, standar bukanlah sekadar formalitas. Di pendidikan dokter, farmasi, kebidanan, kesehatan masyarakat, GURU, psikologi klinis, teknik, dan bidang profesi lain, kesalahan kecil bisa berdampak besar. Ketelitian itu bukanlah “sok jahat”, tetapi manajemen risiko. Kalau di kampus kita dibiasakan longgar, nanti di dunia kerja kita bisa “berdarah”, bukan hanya secara metaforis, tapi bisa nyata pada keselamatan orang lain.
Maka benar kalimat ini: “Mengertilah dosen yang membuatmu berkeringat saat belajar, agar kamu tidak berdarah saat bekerja.”
Kita juga perlu jujur, bahwa kadang kita marah karena merasa terancam
Mari akui satu hal bahwa sebagian label “dosen jahat” lahir bukan karena dosennya buruk, tapi karena kita sedang: tidak siap, tidak belajar, tidak membaca rubrik, malas dan menunda tugas, tidak teliti, ingin hasil cepat, atau tidak siap menerima koreksi.
Bisa dipahami bahwa koreksi memang terasa pahit karena menyentuh ego. Tapi ego yang tidak disentuh tidak akan bertumbuh. Yang perlu kita waspadai bukan dosen yang tegas, tetapi diri kita yang mulai alergi pada proses dan mencelakai kita di masa depan.
Gelar itu amanah, bukan dekorasi
Di lingkungan akademik, apalagi kampus berbasis nilai Islam, gelar bukan hiasan. Namun, gelar adalah amanah dunia dan akhirat. Ilmu bukan alat pamer, tapi tanggung jawab dunia dan akhirat. Ada prinsip sederhana yang bisa kita pegang: adil itu wajib, tegas pada kualitas itu bentuk amanah, lembut dalam komunikasi itu bagian dari adab.
Sehingga, perlu di pahami bahwa ketegasan tanpa adab bisa berubah menjadi kekerasan. Kelembutan tanpa standar bisa berubah menjadi kelalaian. Dan yang kita cari adalah keseimbangan. Yaitu: profesional sekaligus manusiawi.
Jadi, bagaimana membedakan dosen tegas yang sehat vs dosen yang benar-benar bermasalah?
Supaya adil, kita tidak boleh menutup mata bahwa ada juga dosen yang memang menyakiti, merendahkan, atau menyalahgunakan kuasa. Ini pembeda praktisnya:
Dosen tegas yang sehat: standar jelas, penilaian transparan, konsisten, koreksi membangun, komunikasinya tetap menghargai. Dosen yang bermasalah: aturan berubah-ubah, penilaian tidak jelas, suka mempermalukan, tidak ada ruang dialog, menggunakan kekuasaan untuk menekan, bukan mendidik.
Jadi, Kampus perlu menjaga yang tegas dan profesional agar tidak dilabeli “jahat”, dan sekaligus memperbaiki yang benar-benar bermasalah agar tidak berlindung di balik kata “tegas”.
Tulisan ini bukan untuk membela dosen atau menyalahkan mahasiswa. Ini ajakan untuk berhenti memakai label “baik” dan “jahat” secara dangkal. Mari ubah standar penilaian kita: bukan “siapa yang membuat hidup saya mudah”, tapi “siapa yang membuat saya bertumbuh”.
Kalau suatu hari kamu bertemu dosen yang banyak revisi, menuntut rapi, meminta bukti, meminta argumentasi, meminta kamu membaca lebih banyak, boleh jadi itu bukan dosen jahat. Itu dosen yang sedang menjaga masa depanmu. Dan buat teman sejawat dosen, tegaslah pada standar, tetapi tetap manusiawi dalam bahasa. Karena ketegasan yang bernapas adab, akan melahirkan generasi yang juga beradab.