Laut yang Menghidupi, Laut yang Memisahkan: Sebuah Catatan tentang Kapoposang
Oleh: Syahrul Basri
Ada sesuatu yang selalu memikat ketika berbicara tentang Pulau Kapoposang. Hamparan laut yang biru, pantai yang tenang, kehidupan bawah laut, terumbu karang, serta suasana pulau yang jauh dari kebisingan perkotaan membuat tempat ini mudah mendapatkan berbagai predikat tentang keindahan. Bagi mereka yang datang dari daratan, Kapoposang dapat menjadi tempat untuk berhenti sejenak dari kehidupan yang serba cepat, menikmati matahari yang perlahan turun di cakrawala, menyelam di antara kehidupan bawah laut, atau sekadar duduk di tepi pantai sambil mendengarkan suara ombak. Namun, semakin lama kita memandang Kapoposang, semakin terasa bahwa pulau ini seharusnya tidak hanya dibicarakan melalui bahasa pariwisata dan keindahan alam, sebab di balik laut yang memukau itu terdapat masyarakat yang lahir, tumbuh, bekerja, membesarkan anak, bersekolah, mengalami sakit, menua, dan membangun kehidupan di tempat yang bagi orang lain mungkin hanya menjadi sebuah destinasi wisata. Bagi mereka, Kapoposang bukan tempat untuk dikunjungi beberapa hari lalu ditinggalkan; Kapoposang adalah rumah.
Pulau Kapoposang berada di Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, dan menjadi bagian dari gugusan Kepulauan Spermonde yang sejak lama dikenal memiliki kekayaan ekosistem laut. Sebuah sumber akademik yang merujuk data BPS Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan tahun 2024 mencatat luas Kapoposang sekitar 5 km² dengan jumlah penduduk 461 jiwa, sementara Desa Mattiro Ujung disebut memiliki jarak sekitar 111 km dari ibu kota Kabupaten Pangkep. Angka tersebut mungkin terlihat sederhana ketika dibaca di dalam tabel statistik, tetapi dalam kehidupan masyarakat kepulauan, jarak bukan hanya persoalan kilometer karena di dalamnya terdapat persoalan waktu tempuh, transportasi laut, biaya perjalanan, cuaca, angin, gelombang, dan berbagai ketidakpastian yang tidak selalu dihadapi oleh masyarakat yang hidup di wilayah daratan.
Kapoposang juga tidak dapat dipisahkan dari kawasan konservasi laut yang memiliki nilai ekologis sangat penting. Kawasan konservasi Kepulauan Kapoposang dan laut di sekitarnya memiliki luas sekitar 50.000 hektare, dengan kekayaan berupa ekosistem terumbu karang, padang lamun, berbagai jenis ikan, moluska, penyu, lumba-lumba, vegetasi pantai, serta berbagai organisme laut lainnya. Dokumen pengelolaan kawasan mencatat sekitar 1.359,47 hektare ekosistem terumbu karang dan 328,38 hektare padang lamun sebagai bagian dari target ekosistem penting dalam kawasan konservasi tersebut. Kekayaan ekologis inilah yang membuat Kapoposang memiliki daya tarik besar untuk wisata bahari dan penyelaman, tetapi bagi masyarakat yang tinggal di pulau, laut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar pemandangan karena laut adalah sumber pangan, sumber penghidupan, ruang sosial, jalur transportasi, sekaligus bagian dari identitas kehidupan mereka.
Hubungan yang begitu dekat antara manusia dan laut terlihat pula dari data historis mengenai kehidupan masyarakat Kepulauan Kapoposang yang menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen penduduk menggantungkan kehidupannya pada pemanfaatan sumber daya hayati laut sebagai nelayan, sedangkan sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang dan pegawai. Data tersebut memang berasal dari periode yang lebih lama sehingga tidak tepat digunakan untuk menggambarkan secara pasti struktur mata pencaharian masyarakat Kapoposang saat ini, tetapi setidaknya memberikan gambaran mengenai betapa kuatnya hubungan masyarakat dengan ekosistem laut. Ketika kondisi laut baik dan sumber daya perikanan terjaga, masyarakat memiliki ruang untuk mempertahankan penghidupannya, tetapi ketika terumbu karang mengalami kerusakan, sumber daya ikan menurun, pencemaran meningkat, atau perubahan iklim semakin memengaruhi ekosistem pesisir, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya keindahan alam karena pada saat yang sama terdapat keluarga-keluarga yang sumber kehidupannya ikut berada dalam tekanan.
Di sinilah saya melihat Kapoposang dari perspektif yang sedikit berbeda. Keindahan alam memang layak dirayakan, tetapi keindahan tidak boleh membuat kita lupa bertanya tentang manusia yang hidup di dalamnya. Kita sering mengetahui dengan cukup baik di mana lokasi penyelaman yang menarik, bagaimana kondisi pantainya, atau seberapa jernih air lautnya, tetapi kita mungkin tidak memiliki perhatian yang sama besar untuk mengetahui bagaimana anak-anak di pulau tersebut mendapatkan pendidikan, bagaimana masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan air bersih, bagaimana sampah domestik dikelola di wilayah dengan ruang daratan yang terbatas, dan bagaimana seorang warga memperoleh pertolongan ketika mengalami keadaan darurat yang membutuhkan pelayanan kesehatan lebih lengkap di daratan. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang tidak menghasilkan foto yang menarik untuk media sosial, tetapi justru dari jawaban atas pertanyaan tersebut kita dapat menilai apakah pembangunan benar-benar hadir sampai ke masyarakat kepulauan.
Pendidikan dan Jarak yang Tidak Selalu Diukur dengan Kilometer
Pendidikan menjadi salah satu persoalan penting ketika kita berbicara tentang masa depan masyarakat pulau kecil. Data resmi referensi pendidikan Kemendikdasmen menunjukkan keberadaan UPT SDN 12 Kapoposang di Desa Mattiro Ujung, sebuah sekolah dasar negeri yang tercatat. Jangan tanya bagaimana listrik dan akses internet. Informasi seperti ini tentu perlu diverifikasi dengan keadaan aktual di lapangan karena kondisi fasilitas dapat berubah, sementara pembaruan basis data pemerintah tidak selalu berlangsung pada waktu yang sama dengan perubahan kondisi operasional sekolah, tetapi informasi tersebut tetap memberikan alasan yang cukup kuat untuk bertanya lebih jauh mengenai bagaimana proses pendidikan berlangsung di sebuah pulau yang secara geografis terpisah dari pusat pelayanan pendidikan yang lebih lengkap.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita mengingat bahwa pembicaraan mengenai pendidikan Indonesia hari ini telah bergerak sangat jauh menuju digitalisasi pembelajaran, penggunaan teknologi informasi, literasi digital, bahkan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam proses pendidikan. Semua perkembangan itu tentu penting, tetapi transformasi pendidikan akan kehilangan makna keadilannya apabila kemajuan teknologi hanya mudah dinikmati oleh anak-anak yang kebetulan lahir di tempat dengan jaringan internet, listrik, guru, perangkat pembelajaran, dan akses transportasi yang memadai. Seorang anak yang lahir di Kapoposang memiliki hak untuk membangun cita-cita yang sama besarnya dengan anak yang lahir di Makassar, Jakarta, Surabaya, atau kota mana pun di Indonesia, sebab tempat seseorang dilahirkan seharusnya tidak menentukan seberapa jauh ia diperbolehkan bermimpi.
Data historis 2010 menggambarkan struktur pendidikan masyarakat Kapoposang yang didominasi pendidikan dasar. Besaran yang tentu tidak boleh dibaca sebagai kondisi Kapoposang saat ini, sebab lebih dari satu dekade telah berlalu dan berbagai perubahan sosial maupun pembangunan mungkin telah terjadi, tetapi justru usia data tersebut menimbulkan pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting: seberapa jauh keadaan pendidikan masyarakat Kapoposang telah berubah? Jika kita sungguh-sungguh ingin berbicara mengenai pembangunan masyarakat kepulauan, seharusnya kita mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan data terbaru mengenai angka partisipasi sekolah, keberlanjutan pendidikan setelah sekolah dasar, ketersediaan guru, fasilitas pembelajaran, akses internet, serta berapa banyak generasi muda Kapoposang yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah dan pendidikan tinggi.
Pendidikan di Kapoposang bahkan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai upaya membawa model pendidikan dari daratan ke pulau, tetapi dapat dikembangkan berdasarkan kekayaan lingkungan tempat anak-anak itu tumbuh. Mereka hidup di sebuah laboratorium alam yang luar biasa besar, tempat pengetahuan mengenai laut, terumbu karang, perubahan iklim, perikanan, pencemaran, konservasi, kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah, sanitasi, dan pariwisata berkelanjutan dapat dipelajari langsung dari lingkungan kehidupan mereka. Pendidikan seperti ini bukan pendidikan yang mendorong anak-anak meninggalkan pulaunya, melainkan pendidikan yang memberikan kemampuan kepada generasi muda untuk memahami, menjaga, mengembangkan, dan suatu hari memimpin pembangunan pulaunya sendiri.
Kesehatan: Ketika Laut Memisahkan Masyarakat dari Pelayanan
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika kita berbicara tentang kesehatan, sebab pada masyarakat kepulauan, akses terhadap pelayanan kesehatan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan keberadaan fasilitas kesehatan di dalam wilayah administratif tertentu. Bagi masyarakat di daratan, perjalanan menuju fasilitas kesehatan mungkin dapat dihitung dalam kilometer atau menit berkendara, tetapi bagi masyarakat pulau, perjalanan menuju fasilitas pelayanan yang lebih lengkap dapat dipengaruhi oleh ketersediaan perahu, bahan bakar, kondisi mesin, cuaca, angin, tinggi gelombang, waktu keberangkatan, serta kemampuan ekonomi keluarga untuk melakukan perjalanan. Dalam kondisi biasa persoalan tersebut mungkin hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi dalam kondisi kegawatdaruratan—ketika seorang ibu mengalami komplikasi persalinan, seorang anak mengalami kondisi akut, seorang nelayan mengalami kecelakaan, atau seseorang membutuhkan penanganan medis segera—setiap tambahan waktu perjalanan dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius.
Informasi historis mengenai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat Kapoposang menunjukkan ketergantungan pada sistem pelayanan di wilayah kepulauan sekitarnya, tetapi terdapat perbedaan informasi antar-sumber dan sebagian data yang tersedia tidak cukup mutakhir untuk digunakan sebagai gambaran pasti mengenai kondisi pelayanan kesehatan saat ini. Karena itu, saya tidak ingin membuat klaim seolah-olah mengetahui kondisi kesehatan masyarakat Kapoposang hanya berdasarkan data lama. Justru keterbatasan data mutakhir tersebut menunjukkan satu persoalan yang lebih mendasar, yaitu pentingnya memastikan bahwa masyarakat pulau kecil tidak menjadi masyarakat yang kurang terlihat dalam sistem informasi kesehatan dan pembangunan, sebab perencanaan pelayanan kesehatan yang baik membutuhkan data mengenai jumlah penduduk, kelompok umur, ibu hamil, bayi dan balita, penyakit dominan, status gizi, ketersediaan tenaga kesehatan, cakupan imunisasi, akses terhadap air minum aman, kepemilikan jamban, pengelolaan sampah, kondisi sanitasi, serta kemampuan sistem rujukan ketika terjadi keadaan darurat.
Ketika Kesehatan Manusia Bergantung pada Kesehatan Laut
Kapoposang juga mengingatkan kita bahwa kesehatan masyarakat tidak pernah benar-benar berdiri sendiri dari kesehatan lingkungan. Pada sebuah pulau kecil, hubungan antara manusia dan lingkungan bahkan terlihat jauh lebih nyata karena ruang hidup relatif terbatas dan masyarakat berinteraksi sangat dekat dengan laut, sumber air, pangan, sanitasi, sampah, kondisi permukiman, serta perubahan cuaca. Ketika sampah tidak dikelola dengan baik, persoalannya bukan hanya pantai yang kehilangan keindahannya; ketika sumber air mengalami kontaminasi, persoalannya bukan hanya persoalan lingkungan; ketika perubahan iklim meningkatkan tekanan terhadap wilayah pesisir dan memengaruhi sumber daya perikanan, dampaknya dapat bergerak dari ekosistem menuju ekonomi rumah tangga, ketahanan pangan, gizi, dan pada akhirnya kesehatan masyarakat.
Kajian ekologis di Kapoposang dengan ribuan hektare reef flat, dengan tutupan karang hidup pada bagian reef edge dan reef top, sementara terdapat pula karang mati dan karang mati yang tertutup alga. Kajian tersebut juga mencatat adanya jejak kerusakan yang pada masa itu dikaitkan dengan praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. Sekali lagi, data tersebut merupakan gambaran historis dan tidak seharusnya digunakan untuk menilai secara langsung kondisi terumbu karang Kapoposang saat ini tanpa survei ekologis terbaru, tetapi sejarah tersebut memberikan pelajaran yang penting bahwa ekosistem yang tampak kuat dan indah tetap memiliki batas kemampuan untuk menerima tekanan manusia. Ketika ekosistem laut kehilangan kemampuannya untuk pulih, dampaknya pada akhirnya tidak hanya dirasakan oleh ikan dan terumbu karang, tetapi juga oleh manusia yang kehidupannya bergantung pada ekosistem tersebut.
Kapoposang Tidak Membutuhkan Belas Kasihan
Karena itu, persoalan Kapoposang sebenarnya bukan persoalan belas kasihan terhadap masyarakat yang tinggal jauh dari daratan, melainkan persoalan keadilan pembangunan. Jika keindahan Kapoposang menghasilkan nilai ekonomi melalui pariwisata, maka masyarakat lokal seharusnya memperoleh bagian yang bermakna dari nilai ekonomi tersebut; jika terumbu karangnya dipromosikan sebagai daya tarik wisata, maka pendidikan anak-anak yang hidup di sekitarnya juga harus mendapatkan perhatian; jika wisatawan dapat memperoleh fasilitas untuk menikmati pulau, maka masyarakatnya harus memperoleh fasilitas dasar untuk menjalani kehidupan yang sehat; dan jika pemerintah, akademisi, organisasi konservasi, maupun pelaku usaha berbicara tentang keberlanjutan Kapoposang, masyarakat lokal harus berada di dalam proses pengambilan keputusan, bukan hanya menjadi penerima keputusan yang dibuat dari tempat yang jauh dari kehidupan mereka.
Pembangunan Kapoposang tidak seharusnya memilih antara konservasi dan ekonomi, antara pariwisata dan kesehatan, atau antara pembangunan infrastruktur dan perlindungan lingkungan, sebab semua unsur tersebut sebenarnya berada dalam satu sistem yang sama. Pariwisata yang berkembang tanpa pengelolaan sampah dapat merusak lingkungan; konservasi yang tidak memberikan ruang bagi masyarakat dapat kehilangan dukungan sosial; pendidikan yang terbatas dapat mengurangi kemampuan generasi muda mengelola sumber daya pulaunya; pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau dapat memperbesar ketimpangan; sementara kerusakan ekosistem laut dapat mengganggu mata pencaharian dan ketahanan pangan masyarakat. Karena itulah pembangunan pulau kecil membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, yang melihat kesehatan manusia, kesehatan lingkungan, pendidikan, ekonomi lokal, konservasi, dan tata kelola sebagai bagian dari satu kesatuan.
Jangan Menilai Kapoposang Hanya dari Birunya Laut
Suatu hari nanti kita mungkin datang kembali ke Kapoposang dan menemukan lautnya masih berwarna biru, matahari masih tenggelam dengan warna jingga yang indah, perahu-perahu nelayan masih bergerak perlahan di kejauhan, dan terumbu karang masih membuat para penyelam ingin kembali. Tetapi sebelum menyebut tempat ini sebagai surga, mungkin kita perlu mengubah pertanyaan kita. Jangan hanya bertanya seberapa indah pantainya atau seberapa bagus lokasi penyelamannya, tetapi tanyakan pula apakah anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas, apakah generasi mudanya memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan, apakah masyarakatnya memperoleh air yang aman dan sanitasi yang layak, apakah seorang ibu dapat memperoleh pelayanan kesehatan ketika membutuhkannya, apakah nelayan memperoleh kehidupan yang semakin baik, apakah masyarakat lokal benar-benar mendapatkan manfaat dari perkembangan pariwisata, dan apakah ekosistem laut yang selama puluhan tahun menopang kehidupan mereka akan tetap sehat untuk generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, keindahan sebuah pulau tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa biru lautnya, seberapa putih pasirnya, atau seberapa indah terumbu karangnya, tetapi juga dari seberapa bermartabat kehidupan manusia yang tinggal di atasnya. Kapoposang telah dianugerahi alam yang luar biasa, dan tugas pembangunan bukanlah mengubah pulau itu menjadi kota kecil di tengah laut, melainkan memastikan bahwa kemajuan hadir dengan tetap mempertahankan karakter, budaya, pengetahuan lokal, dan keseimbangan ekologisnya. Kita tidak cukup hanya datang, menyelam, mengambil gambar, mengagumi matahari terbenam, lalu pulang membawa cerita bahwa kita pernah menemukan sebuah surga di tengah laut Sulawesi Selatan.
Sebab sebuah pulau belum sepenuhnya dapat disebut indah apabila keindahan yang dinikmati oleh orang yang datang tidak berjalan bersama dengan kualitas hidup orang-orang yang memilih, atau memang ditakdirkan, untuk tetap tinggal di sana. Kapoposang seharusnya menjadi tempat di mana laut yang indah bukan menjadi jarak yang memisahkan masyarakat dari pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, tetapi menjadi sumber kehidupan yang memungkinkan masyarakatnya tumbuh, sehat, berpendidikan, dan menentukan sendiri masa depan pulaunya.
Editor: Nur Ilmi Mardatillah