Pagi itu, mentari belum tinggi saat tetangga mendengar
tangisan histeris dari rumah kecil di ujung gang. Seorang ibu muda ditemukan
duduk memeluk bayinya yang sudah membiru. Ia tak berhenti menangis.
Tapi sepertinya bukan
tangisan kehilangan… itu tangisan bingung, ketakutan, kehancuran; karena ia
sendiri yang mengakhiri hidup darah dagingnya.
Cerita ini bukan satu-satunya. Ada ribuan kisah serupa yang
tak masuk berita. Terjadi dalam senyap. Dalam kamar-kamar yang hanya didengar
tembok dan langit-langit.
Bukan karena tak punya cinta, tapi karena ia kehilangan
dirinya sendiri.
******
Sebut saja namanya Sari. Usianya baru 19 tahun saat
melahirkan anak pertamanya. Di depan orang, ia terlihat bahagia. Tapi setiap
malam, saat rumah mulai sepi, ada yang lain dalam dirinya. Ia menangis tanpa
tahu sebab, merasa cemas bila bayinya menangis, merasa bersalah jika tak bisa
menyusui, dan merasa seperti ibu yang gagal.
Suaminya bingung. “Ah, mungkin cuma kecapekan,” katanya.
Ibunya bilang, “Itu biasa, namanya juga baru jadi ibu.”
Namun tak ada yang benar-benar tahu: badai sedang berkecamuk
dalam diri Sari.
*****
Kondisi ini disebut baby blues. Dialami oleh 50–85% ibu baru, biasanya dalam
dua minggu pertama setelah melahirkan. Gejalanya sering disangka “normal”: mudah menangis, cemas berlebihan, marah tanpa
alasan, sulit tidur dan hilang nafsu makan, serta merasa tidak pantas menjadi
ibu.
Hormon estrogen dan progesteron yang anjlok hingga 90% dalam
72 jam pasca melahirkan memainkan peran besar. Tubuh dan jiwa ibu seperti
kehilangan penyangga. Tidur yang tak pernah cukup, tangis bayi yang tiada
henti, tekanan untuk menyusui… semua berkumpul jadi satu.
Sekitar 10–20% ibu mengalami depresi setelah melahirkan.
Dalam kasus yang sangat jarang tapi mematikan, psikosis postpartum bisa terjadi
pada 1–2 dari 1.000 ibu.
Sebuah studi dari British Journal of Psychiatry mencatat di
Indonesia 15,8% ibu mengalami depresi postpartum
Yang lebih memprihatinkan, 68% ibu dengan depresi postpartum
tidak pernah mendapat bantuan profesional.
Kenapa Ini Terjadi?
Sebuah analisis terhadap 291 studi di berbagai negara
mengungkapkan faktor-faktor risikonya:
Biologis: Riwayat depresi sebelumnya, Komplikasi kehamilan
dan persalinan, dan gangguan tiroid
Psikososial:
Minimnya dukungan pasangan
Kekerasan rumah tangga
Isolasi sosial
Tekanan ekonomi
Budaya:
Tuntutan menjadi ibu sempurna
Stigma terhadap gangguan jiwa
Kurangnya edukasi kesehatan mental
*****
Dalam banyak kasus, iman menjadi jangkar terakhir.
Penelitian dari Journal of Religion and Health (2023) menunjukkan, praktik
spiritual mengurangi risiko depresi postpartum hingga 40%.
Dalam Islam, zikir, doa, dan shalat adalah bentuk terapi
yang menyambung jiwa dengan Yang Maha Mendengar.
Studi FKUI bahkan menunjukkan, ibu yang rutin beribadah
memiliki kadar kortisol (hormon stres) yang lebih rendah, dan kadar serotonin
(hormon bahagia) yang lebih tinggi.
Di Malaysia, integrasi konseling islami dan pengobatan medis
berhasil membantu hingga 85% kasus depresi postpartum ringan hingga sedang.
So, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pihak keluarga, para tenaga kesehatan, dan masyarakat
memiliki peran penting.
Keluarga:
Siapkan dukungan sejak masa kehamilan
Kenali gejala baby blues dan depresi
Berikan waktu istirahat untuk ibu
Hindari menghakimi. Peluklah. Dengarkan.
Bagi Tenaga Kesehatan:
Lakukan skrining mental secara rutin
Bangun komunikasi yang penuh empati
Buat sistem rujukan yang ramah ibu
Libatkan keluarga dalam edukasi
Bagi Masyarakat:
Hentikan stigma terhadap ibu yang sedang berjuang
Dukung program kesehatan jiwa ibu dan anak
Ciptakan lingkungan yang peduli dan suportif
Libatkan tokoh agama dalam edukasi publik
******
Tidak ada ibu yang ingin menyakiti anaknya. Jika itu
terjadi, maka bukan hanya ibunya yang gagal… tapi kita semua yang lalai.
Data menunjukkan, 80% kasus bisa dicegah jika kita peka
terhadap tanda awal dan segera bertindak.
Jangan anggap remeh air mata seorang ibu.
Bisa jadi itu adalah tangis terakhir sebelum segalanya
terlambat.
Biarlah tulisan ini menjadi pengingat:
Di balik senyum seorang ibu, bisa saja tersembunyi luka yang
sedang minta ditemani.
Wahai para ayah, hadirlah dalam kehidupan istri Anda, sebagai ayah dan suami yang utuh.