Jadi PNS, Keren Gak Sih?
Oleh: Dewi Setiawati
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Tahun 2006. Dua puluh tahun yang lalu.
Sebuah kabar datang dan mengubah hidupku: aku diterima sebagai CPNS dosen di Kementerian Agama, formasi dokter. Saat itu, penerimaan dokter pertama di Kementerian Agama. Aku dan sahabatku, Syatirah Jalaluddin adalah dua di antaranya.
Usiaku 24 tahun. Aku baru memiliki seorang bayi berusia delapan bulan. Di kampung, kabar itu seperti pesta kecil. “Jadi PNS!” katanya. Semua ikut bangga. Aku pun demikian. Rasanya… keren sekali. 😁
Alhamdulillah.
Sebagai CPNS, gajiku saat itu Rp800.000 per bulan. Iya, delapan ratus ribu. Dan baru diterima setiap enam bulan kemudian , heheh...Entah kenapa. Tapi anehnya, kami tetap bahagia. Mengenakan seragam biru Korpri saja sudah membuat dada terasa penuh. Kami euforia oleh sebuah status: PNS.
Kini istilah itu berubah menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara.)
Kata orang, menjadi ASN itu nyaman. Rajin atau malas, gaji tetap sama. Ada pensiun. Mudah mengajukan kredit bank 😁. Hidup terasa lebih aman.
Tapi di Kementerian Agama, ASN sejatinya bukan hanya pegawai....
Kami adalah penjaga nilai.
Penjaga akhlak.
Penjaga wajah negara di hadapan umat.
Di kampus, di madrasah, di KUA, di kantor-kantor pelayanan, di mana pun kami berada, kami bukan hanya mengurus administrasi. Kami melayani kegelisahan umat, mendidik generasi, dan ikut menjaga arah moral bangsa.
Sebagai dosen yg sudah mengabdi 20 tahun, ASN golongan IV, gaji ku sekitar tujuh juta rupiah per bulan.
Tidak mewah.
Tidak membuat kaya raya.
Tapi cukup untuk makan, membiayai anak, membayar listrik, dan kredit rumah (yang sejujurnya sebaiknya dihindari 😁🙏).
Dan justru di situlah ujian itu bermula:
apakah kita bekerja karena gaji, atau karena Allah?
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan berarti tidak boleh berharap lebih.
Syukur berarti tidak meremehkan, apalagi melupakan, nikmat yang sudah Allah berikan.
Lalu bagaimana mensyukurinya?
Jadikan status sebagai aparat negara ini sebagai peluang besar untuk “mengeruk” pahala. Cerdas beramal.
Misalnya menjadi ketua atau sekretaris prodi. Bebannya luar biasa. Tunjangannya hampir sama dengan dosen biasa. Tapi pekerjaannya—kalau kata orang Makassar—sessa jaki’.😁 Melelahkan. Menguras tenaga dan pikiran.
Namun di kampus kami, para pimpinan prodi adalah orang-orang yang memilih ikhlas. Mereka tahu, pahala yang mengalir dari amanah itu bukan pahala kecil. Itu pahala jariyah, berlipat-lipat. 🥰
Banyak kerja ASN yang tidak pernah tercatat.
Tidak viral.
Tidak mendapat tepuk tangan.
Kami mengajar.
Mengurus.
Melayani.
Mengelola.
Mengambil keputusan yang tidak selalu menyenangkan.
Kadang disalahkan.
Kadang tidak dipahami.
Kadang lelah sendirian.
Di situlah ikhlas diuji.
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
Jika niat kita lurus....
menjadi dosen untuk mencerdaskan generasi,
menjadi pemimpin untuk memperbaiki sistem,
menjadi ASN untuk menguatkan bangsa
maka setiap lelah akan bernilai ibadah.
Tidak semua usaha langsung berhasil.
Tidak semua kebijakan disukai.
Tidak semua inovasi diapresiasi.
Tanggal 3 Januari bukan sekadar Hari Amal Bakti.
Ini adalah hari untuk mengingat kembali niat kita, kawan...
Mengapa dulu kita ingin menjadi ASN?
Mengapa kita memilih jalan pengabdian ini?
Kita semua pernah memegang surat pengangkatan itu dengan mata berkaca-kaca.
Jangan biarkan rutinitas menghapus maknanya.
ASN mungkin bukan orang-orang kaya.
Tapi semestinya kita adalah orang-orang yang paling bermakna.
Karena kita mengajar dengan nilai,
memimpin dengan amanah,
dan bekerja dengan hati.
Selamat Hari Amal Bakti
untuk setiap ASN yang masih menjaga ikhlasnya,
untuk setiap ASN yang memilih setia dan amanah,
dan untuk setiap langkah kecil yang diniatkan sebagai ibadah
sebagai bekal menuju kehidupan berikutnya.
Semoga Allah menerima semua lelah kita sebagai amal, dan menganugerahkan ridha-Nya kepada kita semua.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Mekah, 3 Januari 2026