Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
KISTA

KISTA

KISTA

Dewi Setiawati

Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar

Dokter Spesialis Obgin Wirahusada Medical Centre


Sore itu, seorang anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun diantar kedua orang tuanya ke ruang praktikku. Wajah keduanya menyimpan kecemasan yang sulit disembunyikan. Sementara si anak, dengan wajah polosnya, menatapku lekat , tenang, seolah belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.

“Halo, Nak,” sapaku lembut. “Ada yang bisa saya bantu?”

Belum sempat ia menjawab, ibunya lebih dulu menyela, suaranya sedikit bergetar.

“Iya, dok… ini anak saya sakit perut. Sudah hampir satu bulan.”

“Sebelah mana sakitnya?”

“Kiri, dok.”

Aku memintanya berbaring. Tubuh kecil itu tampak tegang saat tanganku mulai melakukan palpasi. Ketika kusentuh area tertentu, ia meringis pelan. Rasa nyeri itu nyata.

Pemeriksaan berlanjut. Aku letakkan probe usg di abdomennya. Dan di sanalah aku menemukan, sebuah massa tumor di area ovarium.

Kista ovarium. Gadis usia 10 tahun.

Kista ovarium pada dewasa semakin sering muncul belakangan ini.  Namun pada anak sangat jarang.

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Orang tuanya saling berpandangan, seakan mencari jawaban dari satu sama lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus seperti ini memang semakin sering kutemui. Data menunjukkan adanya peningkatan kejadian kista ovarium pada anak dan remaja dalam satu dekade terakhir. Tidak selalu berbahaya, tidak selalu memerlukan tindakan besar. Tapi tetap saja, ia adalah tanda bahwa ada sesuatu dalam keseimbangan tubuh yang terganggu.

Aku mengalihkan pembicaraan ke hal yang sering kali luput diperhatikan.

“Bagaimana pola makannya, Bu?”

Ibunya tampak ragu sejenak.

“Anu, dok… dia suka sekali makan junk food. Hampir semua jenis.”

Aku mengangguk pelan.

“ ibu tidak membatasi jajannya?”

Pertanyaan itu tidak kujatuhkan sebagai tudingan. Lebih seperti pintu yang kubuka perlahan.

Ia menunduk.

“Kami sibuk kerja, dok… jadi kalau dia minta sesuatu, ya kami turuti saja. Biar dia senang.”

Kalimat yang sederhana. Tapi aku sudah terlalu sering mendengarnya.

Ada keyakinan yang diam-diam hidup di banyak orang tua, bahwa mengabulkan semua keinginan anak adalah bentuk kasih sayang terbaik. Padahal, sering kali justru di situlah awal dari masalah dimulai.... 

“Pak, Bu…” kataku pelan, berusaha memilih kata yang tidak melukai, tapi juga tidak membiarkan mereka pulang tanpa pemahaman baru.

“Anak seusia ini belum bisa menentukan mana yang baik untuk tubuhnya. Mereka hanya tahu mana yang enak, mana yang menyenangkan. Di sinilah peran orang tua menjadi penting.”

Mereka mulai benar-benar mendengarkan.

“Makanan seperti junk food itu tinggi gula, lemak jenuh, dan bahan tambahan yang kalau dikonsumsi terus-menerus bisa mempengaruhi keseimbangan hormon. Pada anak yang tubuhnya masih berkembang, efeknya bisa lebih besar. Salah satunya, bisa memicu gangguan seperti kista.”

Aku tidak mengatakan bahwa itu satu-satunya penyebab. Dunia medis tidak sesederhana itu. Tapi pola hidup tetap punya peran yang tidak bisa diabaikan.

Aku menoleh ke anak itu, mencoba mengembalikan suasana menjadi lebih ringan.

“Kamu suka ayam goreng? Burger? Mie instan? Bakso? Sosis? Minuman instan? ” sambil aku tersenyum dan mengedipkan mata ke anak itu 🙂 ( tapi sepertinya yang membaca tulisan ini banyak yg otomatis mengangguk juga, ya khan?😁)

Ia mengangguk kecil, sambil tersipu.

Aku tersenyum.

“Boleh kok sesekali. Tapi tubuh kamu juga butuh sayur, buah, dan makanan rumahan supaya tetap kuat. Biar bisa main, belajar, dan tumbuh dengan sehat.”

Ia tidak menjawab, tapi matanya menangkap sesuatu, mungkin rasa ingin mengerti.

Aku kembali pada kedua orang tuanya.

“Memberikan apa saja  yang anak mau memang terasa seperti bentuk  kasih sayang. Namun kasih berani mengatakan ‘tidak' juga adalah bentuk kasih sayang. Bukan untuk membuat anak kecewa, tapi untuk melindunginya.”

Ayahnya akhirnya angkat suara, pelan tapi serius.

“Jadi kami harus bagaimana, dok?”

“Mulai dari hal kecil,” jawabku.

“Tidak perlu langsung melarang semuanya. Kurangi perlahan. Ganti dengan pilihan yang lebih sehat. Ajak dia terlibat, agar anak merasa punya peran, bukan sekadar diatur. Dan yang paling penting, beri contoh. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat, dibanding apa yang ia dengar.”

Ruangan itu kembali hening.  Ada sesuatu yang lain.... kesadaran yang perlahan tumbuh.

Ibunya menggenggam tangan anaknya erat.

“Maaf ya, Nak…” bisiknya lirih.

Di momen seperti ini,  sebagai orang tua kita harus sadar bahwa penyakit pada anak sering kali bukan hanya persoalan medis. Ia adalah cerminan dari pola hidup, pola asuh, dan pilihan-pilihan kecil yang diulang setiap hari.

Dan menjadi orang tua… bukan tentang selalu membuat anak bahagia hari ini. 

Melainkan tentang cukup berani tegas untuk menjaga mereka tetap sehat, bahkan jika itu berarti sesekali harus mengecewakan mereka.

Mari menghadirkan diri seutuhnya sebagai orang tua. Lahir dan batin. 

Mari menjaga kualitas generasi kita dengan menjadi orang tua yang peduli.

 Peduli dengan masa depan anak, sama dengan peduli dengan masa depan bangsa dan negara. 

“To be in your children’s memories tomorrow, you have to be in their lives today.”  (Barbara Johnson)