TUTUP KANDUNGAN
Dewi Setiawati
Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Siang menjelang sore yang terik di poli kandungan rumah sakit.
Pintu ruang praktik terbuka perlahan. Masuk sepasang suami istri separuh baya. Usianya mungkin mendekati 50 tahun. Wajah keduanya tampak cerah, penuh harapan seolah sedang membawa sebuah rencana besar yang telah lama disimpan.
“Assalamualaikum, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” sapaku hangat.
Sang ibu tersenyum mantap.
“Ini dok… saya mau buka penutup kandungan saya.”
Aku sempat terdiam beberapa detik.
“Penutup kandungan?”
“Iya dok. Dulu, sekitar 12 tahun lalu, habis operasi SC saya langsung tutup kandungan. Nah… sekarang mau dibuka lagi, dok. Di rumah sudah sepi dok 3 anak saya sudah gede. Nih bapak minta nambah lagi”
Aku pun tersenyum kecil sambil bercanda,
“Hehe… Bu, memangnya pintu bisa dibuka tutup semudah itu?” ????
Kami semua tertawa.
Lalu aku menoleh pada sang suami.
“Pak, serius ingin tambah anak lagi di usia sekarang?”
Beliau tersenyum tenang, lalu menjawab pelan namun mantap,
“Dok… umur hanyalah angka.... dan apalah arti sebuah angka.”
Nah, kali ini aku yang benar-benar tertawa. Romantis juga rupanya, pikirku dalam hati. ????
Apa Itu Tubektomi?
Tubektomi atau yang sering disebut “tutup kandungan” adalah metode kontrasepsi permanen pada wanita. Prosedurnya dilakukan dengan memotong, mengikat, atau menutup saluran telur (tuba falopi), sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur. Akibatnya, pembuahan tidak terjadi.
Karena sifatnya permanen, keputusan tubektomi biasanya dipikirkan sangat matang. Umumnya dilakukan pada wanita dengan kondisi seperti:
Usia di atas 35 tahun
Jumlah anak sudah cukup
Riwayat operasi sesar berulang
Memiliki penyakit tertentu yang membuat kehamilan berisiko
Tidak cocok dengan metode KB lainnya
Secara medis, tubektomi termasuk metode KB yang sangat efektif.
Tingkat keberhasilannya mencegah kehamilan mencapai lebih dari 99%.
Namun, tetap ada kemungkinan kegagalan meski sangat kecil.
Angka kegagalan tubektomi diperkirakan sekitar 0,5% atau sekitar 1 dari 200 wanita masih dapat mengalami kehamilan setelah prosedur. Risiko ini dipengaruhi oleh teknik operasi, usia saat tindakan, dan proses penyembuhan saluran tuba.
Apakah Setelah Tutup Kandungan, Hubungan Suami Istri Berubah?
Ini pertanyaan yang sering muncul.
Jawabannya: tidak.
Tubektomi tidak memengaruhi hormon wanita, tidak mengurangi gairah seksual, tidak mempercepat menopause, dan tidak menghilangkan kenikmatan dalam hubungan suami istri.
Yang ditutup hanyalah jalur pertemuan sel telur dan sperma. Posisi anatominya jauh di atas.
Bisakah Tubektomi Dibuka Kembali?
Jawabannya: bisa, tetapi tidak selalu berhasil.
Tindakan untuk menyambung kembali saluran telur disebut rekanalisasi tuba atau tubal reversal surgery.
Pada prosedur ini, bagian saluran telur yang dulu dipotong atau diikat akan disambungkan kembali dengan teknik bedah mikro. Namun, keberhasilannya dipengaruhi banyak faktor:
Usia wanita
Panjang sisa saluran tuba
Jenis teknik tubektomi sebelumnya
Ada tidaknya perlengketan
Kualitas sperma pasangan
Secara umum:
Keberhasilan saluran kembali terbuka setelah operasi rekanalisasi mencapai sekitar 40–80%
Sedangkan angka keberhasilan hamil setelah operasi berkisar 20–60%
Semakin muda usia pasien dan semakin baik kondisi saluran tuba, peluang keberhasilannya akan lebih tinggi.
Namun pada usia mendekati 40–50 tahun, peluang kehamilan alami tentu menurun karena kualitas dan cadangan sel telur juga ikut berkurang.
Karena itu, pada sebagian pasangan, pilihan yang lebih memungkinkan adalah program bayi tabung (IVF), terutama bila kondisi saluran tuba sudah tidak ideal.
Hari itu, setelah percakapan panjang dan penjelasan medis selesai, pasangan itu hanya saling berpandangan sambil tersenyum, namun tetap menatap penuh harapan.
Kadang, di ruang praktik kandungan, yang datang bukan sekadar pasien.
Mereka datang membawa dengan kisahnya masing2.
Namun di balik semua ikhtiar, ada satu hal yang juga penting untuk diingat:
tidak semua nikmat harus selalu ditambah, namun yg penting adalah harus perlu selalu disyukuri.
Sebab sering kali manusia begitu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki, sampai lupa menghitung nikmat yang sudah memenuhi hidupnya sejak dulu.
Anak-anak yang telah tumbuh sehat, pasangan yang tetap setia menemani hingga usia senja, tubuh yang masih diberi kekuatan, dan rumah yang masih dipenuhi tawa : semuanya adalah karunia yang tak ternilai.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang meminta lebih banyak.
Tetapi juga tentang belajar bersyukur atas apa yang sudah Tuhan titipkan.
Dan mungkin, di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kata orang bijak. Jika kamu ingin bahagia... bersyukurlah! ????????