Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
KISI KISI

KISI KISI

KISI KISI

Dewi Setiawati

Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar



Kemarin saat ujian sumatif anak kami, sebagai emak-emak pasti ikut sibuk juga mendampingi ujiannya. Seperti biasanya, ada kisi-kisi ujian yang diberikan oleh wali kelasnya yg dikirimkan di grup whats up kelas. 


Wah… enaknya jadi anak sekolah zaman now😁. Selalu ada kisi-kisi. 

Dulu zaman kita sekolah, mana pernah ada kisi-kisi alias gambaran soal yang akan diujikan. Itulah yang membuat kami dulu di masa SD begitu stres dengan ujian sekolah… sampai pakai acara rendam kaki, bahkan ada yang merebus lembaran bukunya lalu diminum, biar ilmunya masuk semua ke otak. Hehehe… 😁


Berlalunya waktu… semakin bertambah usia, saya pun sadar bahwa ternyata ada pula “kisi-kisi soal” di masa setelah berakhirnya kehidupan.


Salah satu riwayat paling terkenal berasal dari sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib. Dalam hadis panjang, Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan perjalanan ruh setelah kematian. Ketika mayat telah dikuburkan dan orang-orang pergi, datang dua malaikat lalu mendudukkan si mayit dan bertanya:


“Siapa Tuhanmu?”

“Apa agamamu?”

“Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian?” 


Orang beriman dapat menjawab dengan benar, sedangkan orang munafik atau kafir bingung menjawab. 


Saya kemudian berpikir…


Dalam perjalanan kehidupan ini, Allah memberikan petunjuk arah agar kita selamat dalam perjalanan. Buku petunjuknya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dan juga diberikan “kisi-kisi”, gambaran tentang kehidupan di alam barzakh dan kehidupan akhirat; tentang surga dan neraka.


Allah begitu ingin kita selamat. 

Di dunia yang fana ini… dan di kehidupan yang kekal nanti.


Allah Maha Baik.

Allah love us… so much…


Bahkan sering kali Allah tidak hanya memberi “kisi-kisi”, tetapi juga berulang kali mengingatkan kita dengan kasih sayang-Nya. Lewat ayat-ayat yang kita baca, lewat nasihat yang kita dengar, lewat kehilangan, sakit, kecewa, juga lewat kebahagiaan yang membuat kita bersyukur.


Kadang hati ini terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa hidup sesungguhnya bukan tentang siapa yang paling kaya, paling dipuji, atau paling berhasil di mata manusia. 

Padahal pada akhirnya, kita semua akan pulang… kembali sendiri-sendiri, membawa laporan pertanggungjawaban (lpj) atas kehidupan yang sudah dijalani. 


Dan indahnya, Allah tidak membiarkan kita berjalan tanpa arah. Allah tidak membiarkan hamba-Nya menebak-nebak jalan pulang. 

Kita sudah diberikan petanya. Sudah diberikan petunjuknya. Sudah diberikan gambaran apa yang akan terjadi nanti.


Tinggal kita… mau atau tidak membuka dan membacanya.


Sering kali saya merasa malu sendiri. Betapa seriusnya kita mempersiapkan anak menghadapi ujian sekolah. Mencarikan kisi-kisi, membuat jadwal belajar, mendampingi sampai larut malam, bahkan ikut deg-degan saat mereka menghadapi ujian sekolahnya.... 


Namun untuk ujian kehidupan setelah kematian… sudah sejauh mana persiapan kita?


Padahal nilainya bukan menentukan naik kelas atau tidak. Tapi menentukan keselamatan yang abadi.


Maka rasanya benar sekali…

 Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca saat hati sedang tenang atau saat ada waktu luang. Ia adalah surat cinta. Petunjuk perjalanan. Pelita di jalan yang kadang gelap dan membingungkan.


Dan hadis-hadis Rasulullah ﷺ adalah penjelas penuh kasih agar kita tidak tersesat dalam perjalanan panjang menuju akhirat.


Allah Maha Baik… terlalu baik bahkan.


Betapa banyak dosa yang ditutupi-Nya. Betapa banyak salah yang masih diberi kesempatan untuk diperbaiki. Betapa sering kita lalai, tapi pintu taubat-Nya belum juga ditutup.


Mungkin karena itu, hati ini selalu terharu setiap kali menyadari bahwa semua peringatan dari Allah sejatinya bukan ancaman, melainkan bentuk cinta.


Karena yang mencintai… pasti ingin yang dicintainya selamat.


Semoga kita tidak hanya sibuk mempersiapkan anak-anak menghadapi ujian dunia, tetapi juga mulai lebih sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi perjalanan yang kekal nanti.


Semoga saat tiba waktunya dipanggil pulang, kita bukan termasuk orang yang bingung menjawab, melainkan hamba yang tenang karena selama hidupnya berusaha mengenal Rabb-nya.


Dan semoga langkah-langkah kecil kita hari ini ( membaca Al-Qur’an, menjaga shalat, memperbaiki hati, belajar ikhlas, menahan lisan, memohon ampun setiap malam ) menjadi bekal yang menerangi alam kubur nanti.



Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap hidup dalam cahaya cinta-Nya… 

hingga kelak dipertemukan dengan cinta paling indah: bertemu Allah dalam keadaan Dia ridha kepada kita, hambaNya.