Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
Mengembalikan Kimia ke Pusat Pendidikan Farmasi

Mengembalikan Kimia ke Pusat Pendidikan Farmasi

Farmasi Bukan Sekadar Profesi, tetapi Bangunan Ilmu
oleh : Haeria Doloking, Dosen Farmasi UIN Alauddin Makassar

Dalam dinamika pendidikan tinggi farmasi saat ini, muncul kecenderungan pragmatis: farmasi direduksi menjadi sekadar kompetensi profesi dan keterampilan layanan. Pendekatan ini memang penting, tetapi menyimpan risiko serius—yakni terpinggirkannya fondasi keilmuan yang menopang rasionalitas praktik farmasi itu sendiri. Di titik inilah, ilmu kimia sering kali menjadi korban simplifikasi kurikulum.

Padahal, farmasi tidak lahir sebagai profesi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai disiplin ilmu yang tumbuh dari kimia, biologi, dan kedokteran. Mengabaikan kimia dalam pendidikan farmasi sama artinya dengan membangun profesi tanpa kerangka berpikir ilmiah yang kokoh.

Kimia sebagai Cara Berpikir, Bukan Sekadar Mata Kuliah

Kesalahan paling umum dalam pendidikan farmasi adalah memosisikan kimia hanya sebagai “mata kuliah awal” yang harus dilalui, bukan sebagai cara berpikir ilmiah (scientific way of thinking) yang terus digunakan sepanjang pendidikan dan praktik kefarmasian.

Kimia mengajarkan mahasiswa farmasi untuk:

  • berpikir kausal (sebab–akibat molekuler),
  • memahami proses, bukan sekadar hasil,
  • menilai mutu dan stabilitas secara rasional,
  • serta mengambil keputusan berbasis data dan mekanisme.

Tanpa internalisasi cara berpikir kimia, lulusan farmasi berisiko menjadi pengguna prosedur, bukan analis masalah obat.

Krisis Integrasi Kimia dalam Kurikulum Farmasi

Dalam banyak kurikulum, kimia diajarkan secara fragmentaris: kimia organik terpisah dari kimia farmasi, kimia analitik terpisah dari penjaminan mutu, biokimia terpisah dari farmakologi. Akibatnya, mahasiswa kesulitan melihat benang merah antara struktur molekul, sifat fisikokimia, efek biologis, dan implikasi klinis.

Editorial ini menegaskan bahwa tantangan pendidikan farmasi ke depan bukan mengurangi porsi kimia, melainkan mengintegrasikannya secara kontekstual:

  • kimia organik ? struktur dan stabilitas obat,
  • kimia fisik ? formulasi dan bioavailabilitas,
  • kimia analitik ? mutu, keamanan, dan regulasi,
  • kimia bahan alam ? inovasi produk lokal dan halal.
  • Relevansi Kimia dalam Isu Strategis Farmasi Modern

Isu-isu strategis farmasi saat ini justru memperkuat urgensi kimia, antara lain:

  • Obat berbasis bahan alam: membutuhkan karakterisasi senyawa, standarisasi, dan pembuktian ilmiah.
  • Produk halal dan kosmetik halal: menuntut validasi bahan, proses, dan produk secara kimiawi.
  • Nanoformulasi dan drug delivery system: berbasis kimia material dan kimia fisik lanjut.
  • Regulasi dan penjaminan mutu: sepenuhnya bertumpu pada analisis kimia yang sahih.

Tanpa penguasaan kimia, farmasi akan tertinggal dalam inovasi dan kehilangan daya saing ilmiah.

Kimia dan Martabat Ilmiah Profesi Farmasi

Profesi farmasi memperoleh legitimasi ilmiahnya bukan hanya dari peran pelayanan, tetapi dari kemampuan menjelaskan dan mempertanggungjawabkan obat secara ilmiah. Di sinilah kimia berperan menjaga martabat akademik farmasi sebagai science-based profession, bukan sekadar technical service.

Apoteker yang memahami kimia:

  • lebih kritis dalam menilai klaim produk,
  • lebih kompeten dalam diskusi lintas profesi,
  • lebih siap berkontribusi dalam riset dan inovasi,
  • serta lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi farmasi.

Penutup: Agenda Reflektif untuk Pendidikan Farmasi

Editorial ini mengajak civitas akademika farmasi untuk melakukan refleksi kolektif:
apakah kimia masih ditempatkan sebagai fondasi berpikir farmasi, atau sekadar prasyarat administratif kurikulum?

Mengembalikan kimia ke pusat pendidikan farmasi bukan berarti mengabaikan aspek klinis dan profesional, melainkan memastikan bahwa praktik farmasi berdiri di atas landasan ilmiah yang kuat, relevan, dan berkelanjutan.

Farmasi masa depan membutuhkan lulusan yang tidak hanya bisa melakukan, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana. Dan pemahaman itu, pada dasarnya, berakar pada ilmu kimia.