Alwiyah Nur Syarif, Instruktur Nasional Moderasi Beragama Kementerian Agama RI sekaligus dosen Farmasi UIN Alauddin Makassar (UINAM), menjadi narasumber pada kegiatan Penguatan Moderasi Beragama dan Dakwah Inklusif bagi Mahasiswa yang dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026 di Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali, Auditorium KH. Muhyiddin Zain. Kegiatan ini merupakan kerja sama Kanwil Kemenag Sulsel dan FKUB Sulsel, dengan melibatkan sekitar 200 mahasiswa dari berbagai program studi.
Kegiatan ini menjadi wujud komitmen UIM Al-Gazali dalam memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perdamaian dan penjaga kerukunan di tengah keberagaman masyarakat. Pelaksanaan kegiatan merupakan hasil kolaborasi strategis antara UIM Al-Gazali dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, serta melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Sulawesi Selatan sebagai mitra penguatan nilai-nilai toleransi dan kerukunan umat beragama.
Dalam sesi pemaparan materi, Alwiyah Nur Syarif menegaskan pentingnya memahami kebutuhan dakwah pada konteks sosial hari ini, terutama dalam menghadapi perubahan ruang komunikasi yang semakin terbuka dan cepat. Dakwah dinilai tidak lagi semata menjadi kebutuhan, tetapi juga telah menjadi pilihan yang hadir sebagai bagian dari commodity ruang sosial, sehingga setiap orang memiliki kebebasan menentukan konten dakwah yang dikonsumsi sesuai preferensi masing-masing.
Sejalan dengan itu, penguatan dakwah di media sosial menjadi bagian penting yang ditekankan dalam pembekalan mahasiswa. Selain penguatan nilai moderasi beragama, mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai strategi komunikasi dakwah di era digital, pemanfaatan media sosial secara positif dan bertanggung jawab, serta pendekatan dakwah yang inklusif dan solutif dalam merespons dinamika sosial dan keagamaan di ruang publik.
Melalui kegiatan ini, Alwiyah mendorong penguatan dakwah moderat dengan mengusung indikator moderasi beragama serta menggerakkan dakwah inklusif yang menjangkau semua genre umur. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga kerukunan umat beragama, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang unggul secara akademik, memiliki kesadaran sosial, serta siap menjadi agen perdamaian dan pelopor dakwah moderat di tengah masyarakat yang beragam.