Abstract
Background: Interpersonal communication between health workers and patients is a crucial aspect in supporting the qualityof health services in first-level service facilities, such as Puskesmas. Objective: This study aims to determine the application of interpersonal communication between health workers and patients at Puskesmas Somba Opu, and analyze the factors thatinfluence it, namely the use of masks, environmental conditions, and language use. Method: This study used a descriptive quantitative approach with data collection through questionnaires to 30 respondents. Results: The results showed that most respondents (86.7%) rated the interpersonal communication of health workers as good. As many as 96.7% of respondentsconsidered the use of health workers' language to be easy to understand and communicative, while 66.7% stated that the puskesmas environment supported communication. However, only 20% of respondents used masks consistently and correctly,suggesting challenges in the implementation of health protocols that may hinder effective communication. Conclusion: These findings emphasize the importance of interpersonal communication training for health workers as well as increasingcommunity awareness of their active role in creating quality interactions. This study suggests strengthening communication aspects as a strategy to improve the quality of patient-centered healthcare.
Keywords: Interpersonal communication, health worker, patient, mask, environment, language, health center.
Abstrak
Latar belakang: Komunikasi interpersonal antara petugas kesehatan dan pasien merupakan aspek penting dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan tingkat pertama, seperti Puskesmas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan komunikasi interpersonal antara petugas kesehatan dan pasien di Puskesmas SombaOpu, serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu penggunaan masker, kondisi lingkungan, dan penggunaanbahasa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 30 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (86,7%) menilai komunikasi interpersonal petugas kesehatan sudah baik. Sebanyak 96,7% responden menilai penggunaan bahasa petugas kesehatanmudah dimengerti dan komunikatif, sedangkan 66,7% menyatakan bahwa lingkungan puskesmas mendukung dalamberkomunikasi. Namun, hanya 20% responden yang
menggunakan masker secara konsisten dan benar, menunjukkan adanya tantangan dalam penerapan protokol kesehatan yang dapat menghambat komunikasi yang efektif. Kesimpulan: Temuan ini menekankan pentingnya pelatihan komunikasi interpersonal bagi petugas kesehatan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran aktif mereka dalam menciptakan interaksi yang berkualitas. Penelitian ini menyarankan penguatan aspek komunikasi sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang berpusat pada pasien.
Kata kunci: Komunikasi interpersonal, tenaga kesehatan, pasien, masker, lingkungan, bahasa, Puskesmas
PENDAHULUAN
Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat(Huda et al., n.d.). Salah satu faktor penentu kualitas pelayananadalah komunikasi interpersonal antara tenaga kesehatan dan pasien (Puspita et al., n.d.). Komunikasi yang efektifdapat meningkatkan kepuasan pasien dan mempercepat proses penyembuhan. Namun, dalam praktiknya, komunikasi interpersonal seringkali menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam situasi pandemi COVID-19 yang mengharuskan penggunaan masker oleh tenaga kesehatan dan pasien. Penggunaan masker dapat menghambat komunikasi verbal dan nonverbal, sehingga mempengaruhi efektivitas interaksi antara tenagakesehatan dan pasien. Penelitian oleh (Corey et al., 2020) menunjukkan bahwa masker dapat meredam suara dan mengurangi kejelasan bicara, yang berdampak pada pemahaman pasien terhadap informasi yang disampaikan olehtenaga kesehatan.
Selain penggunaan masker, lingkungan fisik di puskesmas juga mempengaruhi kualitas komunikasiinterpersonal. Lingkungan yang bersih, rapi, dan nyaman dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien. Penelitian di Puskesmas Halong menunjukkan bahwa empati tenaga kesehatan, yang tercermin dari keramahan dan pelayanan tanpa diskriminasi, berdampak positif pada kepuasan pasien (Hafizah et al., 2025).
Faktor lain yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah penggunaan bahasa dalam interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien. Perbedaan latar belakang budaya dan tingkat pendidikan dapat menyebabkan kesenjangan dalam pemahaman informasi medis. Penelitian di Puskesmas
Ponjong mengungkapkan bahwa praktik pemberdayaan pasien masih terhambat oleh beberapa faktor salah satu diantaranya yaitu usia pasien dan pengetahuan pasien, yang memengaruhi efektivitas perberdayaan (HamidahAmir et al., 2024).
Puskesmas Somba Opu sebagai salah satu puskesmas di Kota Makassar juga menghadapi tantangan serupa dalam komunikasi interpersonal antara tenaga kesehatan dan pasien. Penggunaan masker, kondisi lingkungan, dan perbedaan bahasa menjadi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas interaksi di puskesmas ini. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara mendalam bagaimana ketiga aspek tersebut mempengaruhi komunikasi interpersonal di Puskesmas Somba Opu, guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik responden serta beberapa faktor lingkungan dan komunikasi yang memengaruhi perilaku masyarakat dalam konteks pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas SombaOpu, Kabupaten Gowa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner terstruktur yang dibagikan dalam bentuk Google Form. Pengisian kuisioner dilakukan secara langsung melalui wawancara oleh peneliti kepada pasien atau pengunjung puskesmas. Pendekatan ini dipilih agar responden yang memiliki keterbatasan dalam mengoperasikan teknologi tetap dapat memberikan jawaban yang valid melalui bantuan peneliti. Kuisioner terdiri dari sejumlah pertanyaan tertutup yang mencakup data demografi (jenis kelamin, usia, pendidikan, dan status kepesertaan), serta indikator perilaku dan kondisi lingkungan seperti penggunaan masker, kebisingan lingkungan, penggunaan bahasa, dan komunikasi interpersonal. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat, yaitu analisis data satu variabel yang bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase dari tiap-tiap item pertanyaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Tabel 1. Distribusi Frekunsi Karakteristik Di Wilayah Kerja Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa
Jenis kelamin | Frekuensi (n) | Persen (%) |
Laki-laki | 7 | 23.3 |
Perempuan | 23 | 76.7 |
Total | 30 | 100.0 |
Usia | Frekuensi (n) | Persen (%) |
Remaja | 3 | 10.00 |
Dewasa | 21 | 70.00 |
Pra-Lansia | 6 | 20.00 |
Total | 30 | 100.0 |
Pendidikan Terakhir | Frekuensi (n) | Persen (%) |
SD | 1 | 3.3 |
SMP | 7 | 23.3 |
SMA | 19 | 63.3 |
Perguruan Tinggi | 3 | 10.0 |
Total | 30 | 100.0 |
Status Kepesertaan | Frekuensi (n) | Persen (%) |
BPJS | 29 | 96.7 |
Umum | 1 | 3.3 |
Total | 30 | 100.0 |
Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap 30 responden di wilayah kerja Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa, diperoleh gambaran karakteristik responden. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (76,7%), menunjukkan dominasi perempuan dalam mengakses layanan kesehatan, kemungkinan karena peran mereka sebagai pengelola kesehatan keluarga. Dari segi usia, mayoritas berada pada kelompok dewasa (70%), diikuti oleh pra-lansia (20%) dan remaja (10%), yang mencerminkan bahwa kelompok usia produktif paling aktif dalam memanfaatkan layanan puskesmas. Dilihat dari tingkat pendidikan, mayoritas responden merupakan lulusan SMA (63,3%), disusul oleh SMP (23,3%), perguruan tinggi (10%), dan SD (3,3%). Tingginya tingkat pendidikan menengah ke atas menunjukkan potensi pemahaman yang baik terhadap informasi kesehatan yang disampaikan tenaga kesehatan.
Sementara itu, hampir seluruh responden (96,7%) merupakan peserta BPJS, menunjukkan bahwa akses terhadap jaminan kesehatan di wilayah ini sudah sangat baik. Hal ini berkontribusi terhadap keberlangsungan pemanfaatan layanan kesehatan yang terjangkau dan berkesinambungan.
Kasus Indeks
Tabel 2. Distribusi Frekunsi Penggunaan Masker Di Wilayah Kerja Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa
Penggunaan Masker | Frekuensi(n) | Pesen(%) |
Baik | 6 | 20 |
Tidak Baik | 24 | 80 |
Total | 30 | 100 |
Berdasarkan Tabel 2. menunjukkan bahwa hanya 6 responden (20%) yang menggunakan masker dengan benar dan konsisten, sedangkan 24 responden (80%) tidak menggunakan masker. Ini menunjukkan bahwa meskipun edukasi tentang penggunaan masker telah dilakukan secara luas,masih ada kesenjangan antara pengetahuan dan praktik nyata di lapangan. Faktor kenyamanan, pemahaman dan pengawasan yang mempengaruhitingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan.
Tabel 3. Distribusi Frekunsi Kondisi Lingkungan Di Wilayah Kerja Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa
Lingkungan/Noise/ Derau | Frekuensi(n) | Pesen(%) |
Mendukung | 20 | 66,7 |
Tidak Mendukung | 10 | 33,3 |
Total | 30 | 100 |
Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan bahwa sebagian besar 20 responden (66,7%) yang menyatakan kondisilingkungan puskesmas somba opu mendukung proses pelayanan, namun terdapat 10 responden (33,3%) yang merasa bahwa lingkungan masih kurang mendukung. Faktor-faktor seperti kebisingan, kenyamanan ruang tunggu dan kebersihan dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas layanan kesehatan yang diterima.
Tabel 4. Distribusi Frekunsi Penggunaan Masker Di Wilayah Kerja Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa
Penggunaan Bahasa | Frekuensi(n) | Pesen(%) |
Baik | 29 | 96,7 |
Tidak Baik | 1 | 3,3 |
Total | 30 | 100 |
Berdasarkan Tabel 4. menunjukkan bahwa terdapat 29 responden (96,7%) yang menilah bahwa penggunaan bahasa oleh tenaga kesehatan sudah baik, artinya tenaga kesehatan mampu menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami dan komunikatif. Sedangkan hanya 1 responden (3,3%) yang menilai bahwa penggunaan bahasa oleh tenaga kesehatan kepada pasien tidak baik.
Komunikasi Interpersonal
Tabel 5. Distribusi Frekunsi Komunikasi Interpersonal Di Wilayah Kerja Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa
Komunikasi Interpersonal | Frekuensi (n) | Pesen(%) |
Baik | 26 | 86,7 |
Kurang Baik | 4 | 13,3 |
Total | 30 | 100 |
Berdasarkan Tabel 5. menunjukkan bahwa sebagian besar responden (86,7%) dengan frekuensi 26 responden yang merasa bahwa komunikasi interpersonal dengan petugas kesehatan telah berjalan baik, artinya tenaga kesehatan mampu membangun hubungan yang positif, empatik, dan professional dengan pasien. Sedangkan yang menilai komunikasi petugas kesehatan masih kurang baik dengan pasien hanya 4 responden (13,3%). Hal ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
PEMBAHASAN
Penggunaan Masker
Penggunaan masker secara universal di fasilitas layanan kesehatan kemungkinan besar dapat dilakukan dan saat ini menjadi standar di sebagian besar negara (WHO, 2022). Hal ini tidak akan terwujud tanpa partisipasi masyarakat dalam penggunaan masker. Pembinaan peran masyarakat untuk
meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam kesehatan adalah solusi program promosi kesehatan yang efektif di masyarakat (Susanto, 2023).
Berdasarkan dari hasil penelitian terdapat 24 responden dengan persentasi (80%) yang menggunakan masker dengan baik, sedangkan 4 responden dengan persentasi (20%). Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang datang ke pelayanan kesehatan dengan menggunakan masker telah dilakukan secara secara luas meskipun masih adabeberapa yang tidak menggunakan masker dengan beberapa faktor yaitu mereka merasa tidak nyaman dan mengganggu pada saat berkomunikasi dengan orang lain.
Pada penelitian (Br Kaban, 2025), untuk mengetahui frekuensi pemakaian masker di masa pandemi padapasien rawat jalan di Puskesmas Medan Tuntungan tahun 2021. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwaperilaku memakai masker pada pasien di masa pandemi dikategorikan memakai tepat, memakai kurang tepat dan tidak memakai. Berdasarkan tabel 2 frekuensi pasien yang memakai masker tepat berfrekuensi sebanyak 165 pasien (86,84%), sedangkan pasien yang memakai masker kurang tepat berfrekuensi sedang yaitu 19 pasien (10%), dan pasien yang tidak memakai masker berfrekuensi sedikit yaitu 6 pasien (3,16%).
Definisi kepatuhan ialah sebagai perilaku positif yang diperintahkan ke masyarakat misalnya ketikamemakai masker. Ketidakpatuhan ialah selaras atau tidaknya perilaku seseorang ataupun yang memberi asuhan dengan promosi kesehatan yang sudah direncanakan (rencana terpeutik) yang mana adalah persetujuan antaraorang tersebut dengan pihak professional layanan kesehatan. Patuhnya masyarakat dalam memakai masker begitu memberi pengaruh dalam menentukan hasil dari usaha untuk menurunkan penyebaran penyakit (Wa Ode Najwa Sandrina, 2023).
Menurut (Nurqisthi, n.d.)Peningkatan keadaan COVID-19 dari tahun 2020 tidak membuat semua masyarakat menjadi patuh terhadap regulasi yang mewajibkan masker, persepsi sebagian masyarakat cukup kurang terhadap regulasi yang mewajibkan masker dan kurangnya kesadaran perilaku penggunaan masker yang bisa disebabkan karena pengaruh berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Alat pelindung diri dasar yang berfungsi untuk mencegah penularan virus dan tersedia secara umum adalah masker, masker dapat ditemukan di berbagai toko. Berfungsi sebagai pelindung sistem pernafasan dengan cara memastikan masker menutup mulut dan hidung, masker merupakan pelindung dari debu atau partikel berbahayaatau udara polutan yang masuk ke dalam pernapasan dengan bahan yang dapat menyaring masuknya partikel berbahaya (Nurqisthi, n.d). Masker bermanfaat untuk membantu mencegah penularan bermacam-macam penyakit,seperti influenza, batuk, pilek, ISPA, dan sindrom pernapasan ringan dan akut atau Severe Acute RespiratorySyndrome. Jadi, pemakaian masker menjadi
salah satu cara paling baik agar kita tidak mudah menularkan penyakit dan tertular penyakit (Yusna, 2022).
Masker memberikan manfaat melindungi dan menjaga diri dari debu, polusi, virus, bakteri dan, kuman tanpa dimksudkan untuk menghilangkan penyakit selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Greenhalg (Andriani, 2021) yang memiliki hasil bahwa masker adalah perlindungan pernafasan memadai bagi pemakainya yang dapat mencegah pemakai menghirup zat-zat bahaya atau kontaminan yang berada di udara, perlindungan pernafasan atau masker tidak dimaksudkan untuk menggantikan metode pilihan yang dapat menghilangkan penyakit.
Kondisi Lingkungan (Noise/Derau)
Lingkungan fisik di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas memiliki peran penting dalam mendukung komunikasi interpersonal antara tenaga kesehatan dan pasien. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 66,7% responden menyatakan bahwa kondisi lingkungan di Puskesmas Somba Opu mendukung proses pelayanan, sedangkan 33,3% menyatakan lingkungan masih kurang mendukung. Faktor-faktor lingkungan seperti kebisingan, kenyamanan ruang tunggu, kebersihan, pencahayaan, dan ventilasi sangat mempengaruhi kualitas interaksi antara pasien dan tenaga kesehatan. Kebisingan, misalnya, dapat mengganggu konsentrasi dan menyulitkan komunikasi, terutama bagi pasien lansia atau pasien dengan gangguan pendengaran.
Hal ini sejalan yang di lakukan (Rhosika Amaliah Rauf, 2023), untuk mengetahui frekuensi Lingkungan/noise/derau di wilayah kerja Puskesmas Moncobalang Kabupaten Gowa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari total 289 responden, terdapat 128 responden (44.3 %) yang merasa lingkungannya mendukung (tidak ribut atau tidak bising) dan 161 responden (55.7 %) yang merasa lingkungannya tidak mendukung (ribut atau bising).
Penelitian oleh (Shishodia, 2023) menunjukkan bahwa kebisingan di fasilitas kesehatan berdampak negatif terhadap kualitas istirahat pasien, tingkat stres, dan kepuasan terhadap layanan. Mereka menyarankan perlunya desain ruang pelayanan yang memperhatikan akustik dan pemisahan ruang yang optimal untuk menekan derau lingkungan. Studi lain oleh (Jonescu, 2024) mengusulkan pendekatan desain berbasis solusi (design-led) dalam mengurangi kebisingan di ruang layanan kesehatan. Penelitian mereka menunjukkan bahwa perbaikan desain fisikruang, seperti penambahan material penyerap suara dan pengaturan layout ruang tunggu, secara signifikan meningkatkan kenyamanan pasien dan kualitas komunikasi.
Dalam penelitian (Rizwan, 2024) menyatakan bahwa komunikasi perawat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepuasan pasien, dan komunikasi perawat juga termasuk faktor utama dalam menentukan tingkat kepuasan pasien, karena komunikasi merupakan pintu masuk dalam proses
pemberian pelayanan yang dilakukan oleh penyedia jasa di pusat pelayanan kesehatan, sehingga sangat penting untuk pihak pengelola pusat pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas SDM perawat khususnya dalam aspek kualitas komunikasi. Dengan demikian, hasil temuan di Puskesmas Somba Opu mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar pasien telah merasakan kenyamanan lingkungan, namun masih diperlukan upayapeningkatan, terutama dalam aspek pengurangan kebisingan dan penataan ruang agar komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien dapat berlangsung secara optimal.
Penggunaan Bahasa
Berdasarkan hasil penelitian yang ditampilkan pada Tabel 2.7, sebanyak 29 responden (96,7%) menilai bahwa penggunaan bahasa oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Somba Opu sudah baik, sementara hanya 1 responden (3,3%) yang
menilai sebaliknya. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum, tenaga
kesehatan di Puskesmas tersebut telah mampu menyampaikan informasi medis
dengan bahasa yang mudah dip