Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Detail Artikel
IMPLEMENTASI APLIKASI PROMKES PADA FKTP: STUDI KASUS DI KLINIK SETIA KAWAN DAN PUSKESMAS SOMBA OPU

IMPLEMENTASI APLIKASI PROMKES PADA FKTP: STUDI KASUS DI KLINIK SETIA KAWAN DAN PUSKESMAS SOMBA OPU

ABSTRAK

Latar Belakang: Promosi kesehatan merupakan salah satu pilar utama dalam pelayanan kesehatan primer yang bertujuan meningkatkan kemampuan individu dan masyarakat dalam memelihara kesehatannya melalui pendekatan promotif dan preventif. Implementasi promosi kesehatan pada setiap Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dipengaruhi oleh karakteristik institusi, sumber daya yang tersedia, serta kebutuhan masyarakat yang dilayani. Oleh karena itu, diperlukan kajian mengenai implementasi promosi kesehatan pada berbagai jenis FKTP sebagai dasar penguatan pelayanan kesehatan primer.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi aplikasi promosi kesehatan di Klinik Setia Kawan Kabupaten Maros dan UPT Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa.

Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain observasional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelaksanaan promosi kesehatan, serta dokumentasi kegiatan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan langsung dalam pelaksanaan promosi kesehatan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan implementasi promosi kesehatan pada kedua FKTP berdasarkan konsep dan strategi promosi kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Hasil: Klinik Setia Kawan mengintegrasikan promosi kesehatan ke dalam pelayanan klinis melalui komunikasi interpersonal antara dokter dan pasien dengan dukungan media leaflet, poster, video edukasi, dan media sosial. Sebaliknya, UPT Puskesmas Somba Opu melaksanakan promosi kesehatan secara sistematis melalui perencanaan program berbasis Rancangan Usulan Kegiatan (RUK) dan Rancangan Pelaksanaan Kegiatan (RPK), meliputi Integrasi Layanan Primer (ILP), Posyandu Remaja, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), skrining faktor risiko penyakit tidak menular, pembinaan kader, promosi kesehatan sekolah, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.

Kesimpulan: Implementasi promosi kesehatan di kedua FKTP telah menerapkan prinsip komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), namun memiliki karakteristik yang berbeda. Klinik Setia Kawan lebih menitikberatkan pada edukasi individual berbasis pelayanan pasien, sedangkan Puskesmas Somba Opu mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif melalui pemberdayaan masyarakat, kemitraan lintas sektor, dan kegiatan promotif-preventif berbasis komunitas.

Kata kunci: promosi kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat pertama, puskesmas, klinik, implementasi program.

 

ABSTRACT

Background: Health promotion is one of the primary pillars of primary healthcare services aimed at improving individuals' and communities' ability to maintain their health through promotive and preventive approaches. The implementation of health promotion varies across Primary Health Care Facilities (PHCFs), depending on institutional characteristics, available resources, and community needs.

Objective: This study aimed to analyze the implementation of health promotion applications at Setia Kawan Clinic and Somba Opu Primary Health Center.

Methods: A descriptive qualitative observational study was conducted using observation, in-depth interviews, and documentation. Participants were selected through purposive sampling. Data were analyzed descriptively by comparing health promotion implementation between the two PHCFs.

Results: Setia Kawan Clinic implemented health promotion through individualized patient education integrated into clinical services using posters, leaflets, educational videos, and social media. Meanwhile, Somba Opu Primary Health Center implemented comprehensive community-based health promotion through Integrated Primary Care (ILP), health screening, adolescent integrated health posts, school health promotion, cadre empowerment, GERMAS, and vector control programs.

Conclusion: Both health facilities have implemented health promotion according to primary healthcare principles; however, different institutional characteristics influence program implementation. Clinics emphasize patient-centered education, whereas primary health centers emphasize community empowerment and population-based health promotion.

Keywords: health promotion, primary healthcare, clinic, public health center, implementation.

PENDAHULUAN

 

Promosi kesehatan merupakan strategi utama dalam pembangunan kesehatan yang bertujuan meningkatkan kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mengendalikan berbagai determinan kesehatan sehingga mampu mencapai derajat kesehatan yang optimal. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pencegahan penyakit, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan, pembentukan sikap positif, pengembangan keterampilan, serta penciptaan lingkungan yang mendukung perilaku hidup sehat. Konsep tersebut sejalan dengan Ottawa Charter for Health Promotion yang menempatkan promosi kesehatan sebagai proses pemberdayaan masyarakat agar mampu meningkatkan kendali terhadap kesehatannya.

Dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam penyelenggaraan pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. FKTP tidak hanya bertugas memberikan pelayanan kesehatan individual, tetapi juga bertanggung jawab membangun perilaku hidup sehat melalui komunikasi, informasi, edukasi, advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat. Implementasi promosi kesehatan pada FKTP menjadi indikator penting dalam keberhasilan transformasi pelayanan kesehatan primer yang saat ini dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Perbedaan karakteristik organisasi antara klinik pratama dan puskesmas berpotensi menghasilkan variasi dalam pelaksanaan promosi kesehatan. Klinik pratama umumnya berorientasi pada pelayanan kesehatan perorangan, sedangkan puskesmas memiliki mandat yang lebih luas mencakup upaya kesehatan masyarakat melalui pendekatan keluarga dan komunitas. Kondisi tersebut menyebabkan strategi, metode, media, serta cakupan kegiatan promosi kesehatan yang diterapkan pada kedua jenis fasilitas pelayanan kesehatan menjadi berbeda.

Berdasarkan hasil observasi lapangan, Klinik Setia Kawan di Kabupaten Maros dan UPT Puskesmas Somba Opu di Kabupaten Gowa sama-sama melaksanakan promosi kesehatan, namun dengan pendekatan yang berbeda. Klinik Setia Kawan lebih mengintegrasikan edukasi ke dalam pelayanan klinis, sedangkan Puskesmas Somba Opu mengembangkan program promosi kesehatan secara terencana melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat dan kemitraan lintas sektor.


Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi aplikasi promosi kesehatan di kedua FKTP tersebut melalui identifikasi program, strategi, media, sumber daya, serta mekanisme pelaksanaan promosi kesehatan sehingga diperoleh gambaran mengenai kesesuaian implementasi dengan konsep promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan primer.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi observasional. Penelitian dilaksanakan di dua Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, yaitu Klinik Setia Kawan Kabupaten Maros dan UPT Puskesmas Somba Opu Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Observasi dilakukan pada Juni–Juli 2026 sebagai bagian dari kegiatan akademik mata kuliah Aplikasi Promosi Kesehatan di FKTP. 

Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama, yaitu observasi langsung terhadap pelaksanaan promosi kesehatan, wawancara mendalam dengan tenaga kesehatan yang berperan dalam pelaksanaan program promosi kesehatan, serta dokumentasi terhadap media, sarana, dan aktivitas promosi kesehatan yang ditemukan selama observasi. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterlibatan mereka dalam pelaksanaan promosi kesehatan di masing-masing fasilitas kesehatan. 

Analisis data dilakukan secara deskriptif-komparatif melalui proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dengan membandingkan implementasi promosi kesehatan pada kedua FKTP berdasarkan konsep dasar promosi kesehatan, strategi promosi kesehatan, dan media promosi kesehatan yang digunakan.

 

HASIL

Karakteristik Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

Hasil observasi menunjukkan bahwa kedua lokasi penelitian memiliki karakteristik pelayanan yang berbeda sesuai dengan fungsi kelembagaannya. Klinik Setia Kawan merupakan klinik pratama yang memberikan pelayanan kesehatan perorangan melalui poli umum dan poli gigi dengan dukungan tiga dokter dan dua perawat. Sebagian besar pasien yang berkunjung merupakan kelompok lanjut usia dengan penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes melitus, sehingga kegiatan promosi kesehatan lebih diarahkan pada edukasi pasien mengenai pengelolaan penyakit kronis, kepatuhan berobat, serta pencegahan komplikasi. 

Sebaliknya, UPT Puskesmas Somba Opu merupakan puskesmas kawasan perkotaan yang melayani wilayah kerja seluas lebih dari 12 km² dengan delapan kelurahan dan jumlah penduduk lebih dari 63 ribu jiwa. Puskesmas ini memiliki sumber daya manusia kesehatan yang lebih lengkap, terdiri atas dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga promosi kesehatan, tenaga gizi, epidemiolog, sanitarian, dan profesi kesehatan lainnya. Luasnya cakupan wilayah kerja serta keberagaman sasaran pelayanan menyebabkan promosi kesehatan di puskesmas dilaksanakan melalui pendekatan keluarga, kelompok, dan masyarakat. 

Perbedaan karakteristik tersebut berimplikasi pada ruang lingkup pelaksanaan promosi kesehatan. Klinik lebih berorientasi pada pendekatan individual yang terintegrasi dengan pelayanan klinis, sedangkan puskesmas mengembangkan promosi kesehatan sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat yang terencana dan berkelanjutan.

Implementasi Program Promosi Kesehatan

Implementasi promosi kesehatan di Klinik Setia Kawan belum disusun dalam bentuk program khusus, tetapi telah terintegrasi dalam setiap pelayanan pasien. Edukasi kesehatan diberikan setelah pemeriksaan dokter melalui konsultasi individual yang membahas diagnosis penyakit, faktor risiko, tata laksana pengobatan, pencegahan komplikasi, serta perubahan gaya hidup. Selain komunikasi langsung, klinik memanfaatkan leaflet, poster, video edukasi, dan media sosial Instagram sebagai sarana penyebarluasan informasi kesehatan kepada pasien dan masyarakat.

Berbeda dengan klinik, UPT Puskesmas Somba Opu menyelenggarakan promosi kesehatan melalui perencanaan program yang sistematis. Seluruh kegiatan diawali dengan penyusunan Rancangan Usulan Kegiatan (RUK) berdasarkan hasil evaluasi tahun sebelumnya, kemudian diterjemahkan ke dalam Rancangan Pelaksanaan Kegiatan (RPK) sebagai pedoman implementasi program bulanan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa promosi kesehatan telah menjadi bagian integral dari sistem manajemen puskesmas.

Program promosi kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas Somba Opu meliputi pendampingan Integrasi Layanan Primer (ILP), skrining faktor risiko penyakit tidak menular, assessment kader Posyandu, edukasi kesehatan di sekolah, pengembangan Posyandu Remaja, pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta Survei Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Survei Mawas Diri (SMD), dan Musyawarah Masyarakat Kelurahan (MMK). Program-program tersebut menunjukkan bahwa promosi kesehatan tidak hanya berorientasi pada edukasi, tetapi juga mencakup pemberdayaan masyarakat, deteksi dini, penguatan kapasitas kader, serta pengembangan kemitraan lintas sektor.

Metode dan Media Promosi Kesehatan

Metode promosi kesehatan di Klinik Setia Kawan didominasi oleh komunikasi interpersonal melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara individual. Dokter menjadi aktor utama dalam memberikan edukasi kepada pasien mengenai penyakit, pengobatan, perilaku hidup sehat, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), pentingnya Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), serta skrining kesehatan berkala. Pendekatan individual memungkinkan materi edukasi disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien sehingga pesan kesehatan menjadi lebih personal. 

Sementara itu, metode promosi kesehatan di Puskesmas Somba Opu lebih bervariasi. Selain konseling individual berdasarkan hasil skrining kesehatan, puskesmas juga melaksanakan penyuluhan kelompok, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, pelatihan kader, dan pendampingan masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan penyampaian pesan kesehatan menjangkau berbagai kelompok sasaran mulai dari ibu hamil, remaja, lansia, kader kesehatan, hingga masyarakat umum. 

Dari aspek media, kedua fasilitas telah memanfaatkan kombinasi media cetak dan media digital. Klinik Setia Kawan menggunakan poster, leaflet, video edukasi, WhatsApp, dan Instagram sebagai media utama promosi kesehatan. Sebaliknya, Puskesmas Somba Opu menggunakan media yang lebih beragam berupa poster, leaflet, lembar balik (flipchart), LCD/proyektor, Google, YouTube, dan aplikasi Microsite yang mendukung dokumentasi, pelaporan, dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan. 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi promosi kesehatan pada kedua FKTP telah mengadopsi prinsip dasar pelayanan promotif dan preventif, meskipun dengan karakteristik yang berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh mandat kelembagaan, cakupan wilayah kerja, sumber daya manusia, serta sasaran pelayanan masing-masing fasilitas kesehatan.

Pada Klinik Setia Kawan, promosi kesehatan lebih menonjolkan pendekatan patient-centered health promotion, yaitu edukasi yang terintegrasi dalam pelayanan klinis. Model ini memungkinkan dokter memberikan informasi kesehatan yang spesifik sesuai kondisi pasien sehingga meningkatkan pemahaman mengenai penyakit, kepatuhan terapi, dan perubahan perilaku kesehatan. Pendekatan individual tersebut sangat sesuai diterapkan pada pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus yang membutuhkan edukasi berkelanjutan mengenai pengelolaan penyakit. 

Sebaliknya, implementasi promosi kesehatan di UPT Puskesmas Somba Opu mencerminkan pendekatan community-based health promotion. Program yang dikembangkan tidak hanya menitikberatkan pada perubahan perilaku individu, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan, Posyandu, sekolah, dan berbagai kegiatan berbasis komunitas. Keberadaan RUK dan RPK menunjukkan bahwa promosi kesehatan telah diintegrasikan ke dalam siklus manajemen program puskesmas, mulai dari identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. 

Jika dianalisis menggunakan kerangka Ottawa Charter for Health Promotion, implementasi promosi kesehatan di Puskesmas Somba Opu telah mencerminkan lima area aksi promosi kesehatan. Pertama, pengembangan keterampilan individu diwujudkan melalui penyuluhan kesehatan, konseling, dan edukasi pada berbagai kelompok sasaran. Kedua, penguatan aksi masyarakat terlihat melalui pembinaan kader Posyandu, Posyandu Remaja, serta pelaksanaan SMD dan MMK. Ketiga, penciptaan lingkungan yang mendukung diwujudkan melalui pembinaan PHBS, UKS, Kawasan Tanpa Rokok, dan GERMAS. Keempat, reorientasi pelayanan kesehatan tampak melalui penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mengintegrasikan pelayanan promotif dan preventif ke dalam pelayanan rutin. Kelima, pembangunan kebijakan berwawasan kesehatan tercermin melalui koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan berbagai program kesehatan masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan di puskesmas telah berkembang dari pendekatan edukatif menuju pendekatan pemberdayaan masyarakat. 

Di sisi lain, implementasi promosi kesehatan di Klinik Setia Kawan baru mengakomodasi sebagian area aksi Ottawa Charter, terutama pengembangan keterampilan individu melalui edukasi pasien dan reorientasi pelayanan kesehatan melalui integrasi promosi kesehatan ke dalam praktik klinis sehari-hari. Kegiatan berbasis komunitas, advokasi lintas sektor, maupun pemberdayaan masyarakat secara terstruktur belum ditemukan dalam hasil observasi. Kondisi tersebut dapat dipahami karena klinik pratama pada umumnya memiliki orientasi pelayanan kesehatan perorangan dengan cakupan wilayah dan tanggung jawab kesehatan masyarakat yang lebih terbatas dibandingkan puskesmas. 

Pemanfaatan media digital pada kedua fasilitas kesehatan menunjukkan adanya adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi dalam promosi kesehatan. Klinik memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi kesehatan kepada pasien dan masyarakat, sedangkan puskesmas memanfaatkan platform digital tidak hanya untuk edukasi, tetapi juga sebagai media dokumentasi dan pelaporan program melalui aplikasi Microsite. Temuan ini menunjukkan bahwa transformasi digital mulai menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan promosi kesehatan di tingkat pelayanan primer. 

Secara keseluruhan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa kedua FKTP telah menerapkan prinsip-prinsip promosi kesehatan sesuai dengan fungsi kelembagaannya. Klinik Setia Kawan menunjukkan keunggulan pada pendekatan edukasi individual yang terintegrasi dengan pelayanan klinis, sedangkan UPT Puskesmas Somba Opu menunjukkan implementasi promosi kesehatan yang lebih komprehensif melalui kombinasi strategi advokasi, pemberdayaan masyarakat, komunikasi kesehatan, pengembangan kemitraan, dan penguatan pelayanan kesehatan primer. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa efektivitas promosi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh jenis media atau metode yang digunakan, tetapi juga oleh kapasitas organisasi dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program secara berkelanjutan.


KESIMPULAN

 

Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi aplikasi promosi kesehatan di Klinik Setia Kawan dan UPT Puskesmas Somba Opu telah mengintegrasikan upaya promotif dan preventif ke dalam pelayanan kesehatan tingkat pertama, meskipun dengan karakteristik pelaksanaan yang berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh mandat kelembagaan, cakupan wilayah pelayanan, ketersediaan sumber daya, serta sasaran pelayanan yang dimiliki masing-masing fasilitas kesehatan. 

Klinik Setia Kawan menerapkan promosi kesehatan melalui pendekatan pelayanan klinis yang berpusat pada pasien (patient-centered health promotion). Kegiatan promosi kesehatan dilakukan secara terintegrasi dalam proses pemeriksaan dan konsultasi dokter melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) individual yang didukung oleh pemanfaatan leaflet, poster, video edukasi, serta media sosial. Pendekatan ini efektif dalam meningkatkan pemahaman pasien mengenai penyakit, kepatuhan terhadap pengobatan, dan penerapan perilaku hidup sehat, khususnya pada kelompok pasien dengan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus. Namun demikian, implementasi promosi kesehatan di klinik masih didominasi oleh pendekatan individual dan belum berkembang menjadi program pemberdayaan masyarakat yang terstruktur. 

Sebaliknya, UPT Puskesmas Somba Opu telah melaksanakan promosi kesehatan secara lebih komprehensif melalui proses perencanaan program yang sistematis berbasis Rancangan Usulan Kegiatan (RUK) dan Rancangan Pelaksanaan Kegiatan (RPK). Implementasi promosi kesehatan mencakup berbagai program berbasis masyarakat, seperti Integrasi Layanan Primer (ILP), skrining faktor risiko penyakit tidak menular, pembinaan kader Posyandu, Posyandu Remaja, promosi kesehatan sekolah, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) dan Musyawarah Masyarakat Kelurahan (MMK). Pelaksanaan program tersebut menunjukkan bahwa promosi kesehatan di puskesmas telah mengakomodasi prinsip pemberdayaan masyarakat, kemitraan lintas sektor, serta penguatan pelayanan kesehatan primer secara berkelanjutan. 

Analisis berdasarkan kerangka promosi kesehatan menunjukkan bahwa kedua fasilitas telah menerapkan prinsip komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) sebagai strategi utama promosi kesehatan. Namun, implementasi di Puskesmas Somba Opu lebih mencerminkan pendekatan promosi kesehatan yang komprehensif melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan aksi komunitas, dan pengembangan lingkungan yang mendukung kesehatan, sedangkan implementasi di Klinik Setia Kawan lebih menitikberatkan pada perubahan perilaku individu melalui edukasi pasien. Dengan demikian, kedua model implementasi tersebut saling melengkapi dalam mendukung pencapaian tujuan pelayanan kesehatan primer sesuai karakteristik dan fungsi masing-masing fasilitas kesehatan.

Temuan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi promosi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan media edukasi atau frekuensi kegiatan penyuluhan, tetapi juga oleh kualitas perencanaan program, kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi informasi, keterlibatan masyarakat, serta dukungan kemitraan lintas sektor. Oleh karena itu, penguatan sinergi antara pelayanan kesehatan perorangan yang dikembangkan oleh klinik dan pelayanan kesehatan masyarakat yang dikembangkan oleh puskesmas menjadi strategi yang penting dalam meningkatkan efektivitas promosi kesehatan dan mempercepat pencapaian tujuan transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

 

IMPLIKASI PENELITIAN

 

Hasil penelitian ini memberikan implikasi praktis bahwa klinik pratama memiliki peluang untuk memperluas implementasi promosi kesehatan melalui pengembangan program berbasis komunitas, pembentukan jejaring dengan kader kesehatan, serta kolaborasi dengan pemerintah desa, sekolah, maupun organisasi masyarakat. Sementara itu, puskesmas perlu terus memperkuat transformasi digital dalam promosi kesehatan melalui optimalisasi media sosial, aplikasi kesehatan, dan sistem pelaporan digital sehingga efektivitas edukasi, monitoring, dan evaluasi program dapat semakin ditingkatkan. Integrasi pendekatan klinis dan pendekatan pemberdayaan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan model promosi kesehatan yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ajzen, I. (2020). The theory of planned behavior: Frequently asked questions. Human Behavior and Emerging Technologies, 2(4), 314–324. https://doi.org/10.1002/hbe2.195

Green, L. W., & Kreuter, M. W. (2022). Health program planning: An educational and ecological approach (5th ed.). McGraw-Hill Education.

Iba, Z., & Wardhana, A. (2024). Metode penelitian kesehatan. Deepublish.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Pedoman pelaksanaan promosi kesehatan di puskesmas. Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Petunjuk teknis penyelenggaraan promosi kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pedoman pelaksanaan promosi kesehatan di daerah. Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Notoatmodjo, S. (2014). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan (Edisi revisi). Rineka Cipta.

Pender, N. J., Murdaugh, C. L., & Parsons, M. A. (2023). Health promotion in nursing practice (9th ed.). Pearson.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah.

Sholihah, N., Rahmawati, D., Prasetyo, B., & Hidayat, A. (2025). Digital media utilization for health promotion in primary healthcare settings: A systematic review. Journal of Primary Care and Community Health, 16, 1–12.

World Health Organization. (1986). Ottawa charter for health promotion. World Health Organization.

World Health Organization. (2021). Health promotion glossary of terms 2021. World Health Organization.

World Health Organization. (2022). Global strategy on digital health 2020–2025. World Health Organization.

World Health Organization. (2023). Primary health care: Transforming vision into action. World Health Organization.