Bapakku, Lelaki Hebatku
Oleh: Dewi Setiawati
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Hari ini aku ingin menarik memoriku jauh ke belakang, ke masa ketika hidup belum sesak oleh beban target dan tuntutan. Masa ketika beban hidup masih ringan, belum ada cicilan, karier, ataupun ekspektasi. Kalaupun ada, paling hanya belajar dan mengurus rumah. Itupun biasanya hanya menjelang Lebaran, saat seluruh rumah sibuk dibersihkan, dihias, dan disiapkan untuk menyambut tamu. Hidup sederhana, tapi hati terasa lapang.
Aku ingin bercerita tentang bapak.
Tak banyak yang tahu, kisah cinta bapak dan mamaku bermula bukan di taman bunga nan romantis, melainkan di bangsal rumah sakit. Sekitar tahun 1970-an, di sebuah rumah sakit di Makassar. Mamaku saat itu adalah dokter muda, atau biasa disebut coass , di bagian bedah. Sedangkan bapak? Seorang pasien pasca operasi yang harus opname selama tiga bulan di bangsal bedah. Bapak 2 kali menjalani laparatomi, dilakukan re-laparatomi dengan pengangkatan ginjal kirinya. Laparatomi adalah pembedahan perut. Dan koas yg merawatnya adalah calon mamaku 😁
Tiga bulan.
Cukup lama untuk sembuh.
Dan ternyata, terasa singkat buat pemuda yg tengah mabuk cinta🥰
Cinta bersemi di bangsal rumah sakit.
So sweet dan sangat sederhana. 😄
Bapakku adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Jarak usianya jauh dari kakak-kakaknya. Karena itulah, ketika orang tuanya telah sepuh, beliaulah yang setia menemani. Menggendong, merawat, mengurus kedua orang tuanya karena kakekku terkena stroke.
Dari bapak, aku belajar bahwa merawat orang tua bukan beban, tapi kemuliaan.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya…”
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Setelah mama menyelesaikan pendidikan kedokterannya, bapak segera melamar. Mereka menikah, lalu Allah menganugerahi empat orang anak: dua laki-laki dan dua perempuan. Aku anak kedua. Dan sejak itulah aku melihat satu hal yang tak pernah berubah, bapak selalu berdiri di belakang mama, menopang tanpa banyak suara. Mendampingi dan menyempurnakan. Cinta yang penuh. Kepada kami semua.
Bapaklah yang mendorong mama untuk sekolah lagi, mengambil spesialisasi anak. Untuk itu, bapak bekerja tanpa pilih-pilih. Apa pun yang halal, beliau lakukan. Pernah menjadi sopir pete’-pete’ (angkot), usaha mebel, dan pekerjaan lain demi satu tujuan: menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan istrinya.
Kami sering berangkat sekolah di pete’-pete’ bapak, bersama penumpang lain.
Apakah kami malu?
Tidak sedikit pun.
Kami bangga.
“Itu pete’-pete’ bapakku,” kata kami dengan dada tegak. Paling senang saat bapak pulang membawa uang2 koin dari hasil narik angkot nya.
Bapak juga mengambil peran besar di rumah. Urusan dapur bukan perkara tabu. Masakan bapak? Sangaaaat lezat. Jujur saja, tak ada restoran yang bisa menandingi. Bahkan ketika aku hamil, aku ngidam masakan bapak. Kini aku paham, rasanya bukan hanya dari bumbu, tapi dari cinta dan keikhlasan.
Soal pendidikan, bapak sangat disiplin. Beliau membeli buku-buku pelajaran SD, khususnya matematika. Bapak mempelajarinya sendiri, lalu mengajarkan kepada kami satu per satu. Tidak ada guru les. Mungkin karena keterbatasan biaya. Tapi semangat bapak jauh melampaui itu.
Nasihat bapak yang tertanam kuat di jiwaku:
“Jadilah manusia yang bermanfaat. Sekolah setinggi-tingginya. Perempuan tidak boleh menggantungkan hidupnya pada laki-laki.”
Bapakku keras, disiplin tapi hatinya penuh kelembutan.
Membuatku takut… takut mengecewakan, dan takut dimarahi juga sih hehhe
Dan mungkin karena itu pula aku sangat pasrah soal jodoh. 😅
Selain memiliki bapak yang super protektif, aku juga punya kakak laki-laki yang “kejamnya” serupa. 😁 😁😁
Saking pasrahnya, aku yakin akan susah dapat jodoh karena punya 2 bodyguard. Oleh karenanya aku pun inisiatif menyampaikan kepada Bapak,
“Pa, kalau usiaku sudah waktunya menikah dan aku belum punya calon suami… jodohin saja aku sama anaknya teman ta...hahaha.”
Tiba masanya akupun sudah menjadi dokter muda alias koas....
Dan saat aku koas, seorang residen (calon dokter spesialis) datang melamarku. Tanpa pacaran. Tanpa basa-basi. Langsung mengutarakan niat menikah.
Aku hanya menyampaikan ke residen itu untuk langsung ke ortu saja.
Karena aku yakin, siapapun pilihan orang tuaku, pasti itulah yang terbaik.
Bagaimana sikap bapak?
Bapak berkata dengan tenang dan penuh harga diri:
“Kalau memang jodoh dan Allah ridhoi, silakan. Tapi saya tidak menjual putri saya. Tidak ada uang panai’. Kalau mau pesta, kita buat bersama. Saya titipkan anak saya. Tolong dukung pendidikannya dan jaga dia sebagaimana saya menjaganya.”
Pria yang melamarku itu tertegun. Tidak yakin akan yg didengarkannya (padahal dalam hatinya seneng banget,maklum masa2 jadi residen hidup masih susah, dan kehidupan masih disubsidi ortunya heheh)
Maaf pak, tidak ada uang pannai? Bagaimana dengan tanah, emas atau yang lain?
Bapakku menyampaikan, saya sudah rawat anak saya. Saya tidak menjual anak saya. Lalu hening...
Saat itu aku hanya terharu.
Namun bertahun kemudian aku baru sadar…
Itu adalah “taktik” bapak yang paling jenius.
Tidak ada uang panai’,
tetapi suamikulah yang kemudian mendaftarkanku sekolah S2, S3, spesialis dan mendukungku sepenuh jiwa. Bukan cuma mendaftarkan, tapi juga membiayai dan membackup full seluruh proses2nya , yang jika dikalkulasi melebihi uang pannai yang super mahal 😁😁😁
Suamiku menjadi mentorku. Pelindung. Guru. Dan sahabat. Tepatnya menjadi penasehat spiritual maupun penasihat akademik kehidupan.
Terima kasih, suamiku.
Terima kasih, bapak.
Terima kasih, mama.
Terima kasih, ya Rabbku....
Engkau menitipkanku pada seorang ayah yang mengajarkanku arti ikhtiar, semangat, tawakal, tanggung jawab, dan harga diri melalui pete’-pete’, kedisiplinan, masakan rumah, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus.
Kasih sayang yang tiada duanya.
Terkirim doa untuk Bapak alm. Muh Muchsin:
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dia, maafkanlah kesalahannya, dan jadikanlah surga tempatnya. Amin yra...

