TENTANG PERGI
Oleh : Dr.dr. Dewi Setiawati, SpOG
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Setiap kali mendengar kabar ada keluarga atau kerabat yang meninggal dunia, hampir selalu hati kita bertanya:
“Karena apa ia meninggal?”
“Sakit apa?”
“Bagaimana kondisinya saat menghembuskan napas terakhir?”
Sepertinya, kita memang selalu penasaran bagaimana akhir kehidupan seseorang. Mungkin karena jauh di dalam diri, kita tahu: suatu hari nanti, pertanyaan itu akan tertuju kepada diri kita sendiri.
Manusia terlahir dengan satu cara yang sama, yaitu melalui persalinan dari rahim ibu kita.
Tetapi kehidupan berakhir dengan banyak cara.
Ajal adalah penutup kisah kita. Akhir dari permainan. Hanya saja, cara malaikat menjemput kita berbeda-beda. Ada yang lewat sakit panjang, ada yang mendadak, ada yang sempat berpamitan, ada pula yang pergi tanpa aba-aba.
Sebagai seorang muslim, tentu kita berharap “tutup buku” kehidupan ini terjadi dalam keadaan husnul khatimah, akhir yang indah.
Ini impian bagi semua orang beriman. Tetapi pertanyaannya:
apakah kita sudah menyiapkan caranya?
apakah usaha kita sudah maksimal?
Orang yang cerdas, kata Rasul adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling serius mempersiapkannya.
Harta tidak dibawa mati. Semua orang tahu itu. Tetapi melawan rasa “sekke”, rasa berat melepaskan atau kikir—adalah perjuangan besar. Sifat kikir sesungguhnya ada pada semua manusia. Namun pemahaman bisa mengikisnya, mengubahnya menjadi kedermawanan.
Karena sedekah, sejatinya, bukan kehilangan.
Ia adalah menitipkan harta dunia untuk diambil kembali di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Harta seseorang tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
Bagaimana jika kita dizalimi? Difitnah. Atau dalam masa banyak cobaan?
Oh, tenang. Sederhana.
Sabar saja kuncinya.
Karena nilai sabarmu bisa ditukarkan dengan pahala yang besar, di-invest di akhirat .... dapat bunga deposito akhirat😘
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberikan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Di dunia mungkin kita kalah.
Di akhirat, kita menang besar.
Semua akan berakhir. Dunia dan seisinya akan berakhir. Tak bersisa.
Hanya saja, menjadi misteri kapan itu terjadi.
Karena itu kita diminta untuk selalu bersiap.
Ya, bersiap untuk menghadapi hari itu.
Saya sering menyampaikan hal ini kepada mahasiswa saya, bahkan dalam pelajaran fisiologi haid dan kehamilan.
Rahim atau dalam bahasa kedokteran disebut uterus. pada wanita yang sudah baligh, setiap bulan mengalami tiga fase:
Fase menstruasi
Fase proliferasi
Fase sekresi
Pada fase sekresi, rahim dikondisikan untuk siap hamil. Dinding rahim menebal, pembuluh darah bertambah, nutrisi disiapkan. Rahim menjadi subur dan kaya zat-zat makanan. Ia dipersiapkan menjadi tempat kehidupan baru.
Yang menarik: rahim melakukan ini tanpa peduli apakah wanita itu sudah menikah atau belum.
Ada yang membuahi atau tidak, rahim tetap harus siap, lahir dan batin, hehe 😁
Ia tidak menunggu kepastian.
Ia hanya tahu satu hal: aku harus siap.
Begitulah seharusnya sikap kita dalam menghadapi kematian.
Allah menggambarkan akhir terindah seorang hamba dengan kalimat yang sangat lembut:
“Yā ayyatuha an-nafsul muṭma’innah.
Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah.
Fadkhulī fī ‘ibādī, wadkhulī jannatī.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
“Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.
Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Semoga kita semua mendapatkan panggilan lembut seperti ini kelak. Amin yra....
SA 3 Jan 2026

