TUKANG CUKUR GADUNGAN
Dewi Setiawati
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Aku adalah ibu dari 4 anak. Sebagai emak2, Ada fase dalam hidup seorang ibu, ketika ia merasa paling pintar di rumahnya.
Merasa bisa memasak, mencuci, membersihkan, ke pasar, mengatur jadwal, mengobati luka, bahkan… mencukur rambut anaknya sendiri 😀
Waktu itu masa Covid. Semua serba terbatas. Tukang cukur sulit, keluar rumah pun waswas. Saai itu rambut anak lelakiku mulai gondrong. Sebagai mama yang percaya diri berlebihan, aku pun berinisiatif menajdi tukang cukur dadakan...😃
Kubeli alat cukur. Lengkap.
Kusiapkan “perlengkapan tempur”.
Kubuka YouTube.
Kutonton teknik fade, undercut, potong rapi bagian samping.
Oke. Mama siap!🥰
“Hadi, ayo nak. Mama cukur ya.”
Ia datang. Duduk tenang. Wajahnya pasrah seperti pasien yang siap diobati dokter. Hanya saja bedanya, pasien ini membelakangi dokternya, eh tukang cukurnya😀. Aku berdiri di belakangnya dengan keyakinan setinggi langit.
Dua menit kemudian… (pasti sahabat pembaca tahu yang bakalan terjadi , kan?😀)
Tokka’.
Pitak.
Tidak rata.
Dan tidak bisa diselamatkan🥲😅
Tanganku mulai dingin. Jantung berdebar. Napasku agak cepat. Ini seperti gejala2 syok. Syok et causa salah cukur😅😅😅
Aku tahu ini bukan model Korea. Ini bukan tren. Ini tragedi!😀
“Mama minta maaf ya, Nak… bagaimana kalau sekalian saja kita gundul? Kan lebih keren…” kataku, setengah panik, setengah menutupi rasa bersalah.
Ia menoleh. Tidak marah. Tidak menggerutu.
“Tidak apa-apa, Mama. Kan rambut akan tumbuh lagi.” kata putraku ini sambil tersenyum.
Tidak apa-apa, Mama.
Kalimat sederhana itu lebih menamparku daripada kesalahan potongan rambutnya.
Dan sahabat pembaca perlu tahu, ini bukan kejadian pertama. Sudah tiga kali aku “bereksperimen” pada rambutnya. Dua kali saat ia SD. Bahkan tukang cukur langganan pernah mengira gurunya lah pelaku di balik tragedi potongan tokka’ itu.😆😀😀😀
Tapi anakku ini… selalu tersenyum.
Selalu bilang tidak apa-apa. Its oke mama. Masyaallah🥰🥰🥰
Dua hari lalu, menjelang tarawih di rumah, tiba-tiba aku meminta Hadi yang memberikan ceramah singkat. Ia punya dua adik perempuan yang masih SD. Kadang bertengkar. Kadang rebutan hal kecil. Hadi Juga memiliki 1 kakak perempuan yg sudah kuliah. Yang kadang2 senewen jika lagi banyak tugas di kampusnya😀
Tanpa protes, ia mengiyakan.
Ia berdiri di depan kami. Mengucap salam. Lalu membaca ayat:
“Innallāha ma‘aṣ-ṣābirīn.”
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)
Ia berhenti sejenak.
“Perhatikan kalimatnya,” katanya pelan. “Allah membersamai mereka. Bukan sekadar memberi pahala. Tapi membersamai.”
Aku terdiam. Semua hening menyimak.
Betapa bahagianya manusia jika Allah selalu membersamai kita. Bukankah kita senang jika yang kita cintai selalu dekat dengan kita?
Apalagi jika Allah yang bersama kita.
Maka kita tidak perlu takut pada apa pun dan kepada siapa pun.
Ia melanjutkan.
Allah menyukai orang sabar karena sabar menunjukkan iman yang matang. Orang sabar percaya bahwa setiap ujian bukan kebetulan. Ada hikmah. Ada rencana. Ada pengaturan Allah yang lebih besar dari logika kita.
Sabar adalah tawakal yang nyata.
Sabar menahan diri dari perbuatan dosa.
Saat marah, tidak melukai.
Saat kecewa, tidak menyalahkan takdir.
Saat diuji, tidak menyalahkan Allah.
Sabar adalah bukti cinta kepada-Nya. Dan cinta itu dibalas dengan kedekatan-Nya.
Aku tidak tahu apakah ketiga saudara nya sepenuhnya memahami maknanya. Tapi aku tahu, malam itu, Allah sedang menasihatiku lewat anakku sendiri.
Remaja yang rambutnya pernah kubuat pitak tiga kali.
Remaja yang hanya berkata, “Tidak apa-apa, Mama.”
Ternyata ia bukan sekadar sedang sabar pada potongan rambut yang gagal. Ia sedang mempraktikkan sabar dalam hidupnya.
Dan sbg orang tua, aku belajar.
Bahwa anak bukan hanya untuk kita ajari.
Kadang mereka dihadirkan untuk mengajari kita.
Bahwa kesabaran bukan teori. Ia hidup dalam tindakan kecil. Dalam senyum yang tidak membalas kesalahan dengan amarah.
Malam itu aku berdoa lirih dalam khusyu':
Rabbij ‘alni muqimas shalati wa min dzurriyati. Rabbana wa taqabbal du’a.
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Semoga Allah menjaga kesabaran itu dalam dirinya.
Dan semoga aku, sebagai ibunya, tidak kalah sabar dari anak yang pernah kupotong rambutnya dengan penuh percaya diri itu.
MasyaAllah.
Barakallahu fikum.