“Jika kita bicara Indonesia Emas 2045, maka kita sedang bicara tentang kualitas anak-anak hari ini. Dan itu dimulai dari hal paling mendasar: gizi,” ujar Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya intervensi gizi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Data nasional masih menunjukkan tantangan serius. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di kisaran 21,5 persen, angka yang menunjukkan bahwa masalah gizi kronis pada anak masih menjadi pekerjaan besar.
Dalam konteks itu, UIN Alauddin Makassar menghadirkan kontribusi melalui inovasi riset yang berfokus pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG) berbasis kearifan lokal.
Pada 2025, tim peneliti kampus ini berhasil memperoleh pendanaan dari skema LPDP–MORA (MoRA The Air Fund). Riset yang dipimpin oleh Dr. M. Fais Satrianegara., SKM., MARS., ini tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi menghasilkan perangkat intervensi yang dirancang untuk dapat langsung diterapkan di masyarakat.
“Sejak awal, penelitian ini memang diarahkan agar tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi menghasilkan solusi yang bisa digunakan,” ujar Fais.
Salah satu inovasi utama yang dikembangkan adalah aplikasi digital untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Aplikasi ini memungkinkan orang tua dan tenaga kesehatan memantau status gizi anak secara berkala, sekaligus mendeteksi dini potensi gangguan pertumbuhan.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menggeser pola intervensi dari yang bersifat reaktif menjadi lebih preventif dan berbasis data. Dengan ketersediaan informasi yang terintegrasi, penanganan masalah gizi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, tim peneliti juga mengintegrasikan fitur edugames dalam aplikasi sebagai media edukasi gizi. Melalui pendekatan ini, anak-anak diperkenalkan pada konsep gizi seimbang, jenis makanan sehat, serta pentingnya pola makan yang baik dengan cara yang lebih interaktif.
“Persoalan gizi tidak hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga pengetahuan dan kebiasaan. Edukasi sejak dini menjadi bagian penting dari intervensi,” kata Fais.
Inovasi lainnya adalah penyusunan katalog menu makanan bergizi berbasis kearifan lokal. Berbeda dengan pendekatan seragam, katalog ini disusun dengan mempertimbangkan potensi bahan pangan daerah, kebiasaan konsumsi masyarakat, serta nilai budaya yang berkembang.
Pendekatan berbasis lokal ini dinilai dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program MBG sekaligus memperkuat keberlanjutannya. Selain itu, pemanfaatan bahan pangan lokal juga berpotensi mendorong ekonomi masyarakat setempat.
Menurut Prof. Hamdan Juhannis, capaian tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung program prioritas Bapak Presiden. “Kampus tidak hanya menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata yang berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Integrasi antara teknologi, edukasi, dan pendekatan budaya dalam riset ini mencerminkan upaya untuk menjawab persoalan gizi secara lebih komprehensif. Tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung perubahan perilaku dan pemantauan berkelanjutan.
Ke depan, inovasi semacam ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program MBG secara nasional. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan gizi yang cukup, pengetahuan yang memadai, dan lingkungan yang mendukung perkembangannya.